Perkiraan Tenaga Kerja Periode Puncak

Posted by Taufick Max Minggu, 02 Juni 2013 0 komentar
Share on :

Perkiraan  Tenaga Kerja Periode Puncak

Perkiraan  Tenaga Kerja Periode Puncak- Periode puncak (peak) adalah periode yang paling sibuk, dalam arti paling banyak memerlukan tenaga kerja. Pengetahuan mengenai seberapa besar tenaga puncak dan berapa lama periodenya berguna bagi perencanaan kapasitas fasilitas penampungan, transportasi, dan akhirnya arus dan (cash-flow) pembiayaan proyek.

Grafik Lonceng

Cara paling sederhana memperkirakan  keperluan tenaga kerja puncak ialah metode empiris, yaitu pertama-tama menghitung keperluan rata-rata, (garis lurus), kemudian memakai kurva lonceng atau genta (bell) di mana puncaknya berada sekitar 1,5-1,7 kali keperluan rata-rata, seperti Total tenaga kerja proyek = luas area di bawah kurva lonceng = luas segiempat  ABCD.

Jadi, untuk contoh pada gambar tersebut, keperluan tenaga kerja puncak adalah (1,6) x (350) = 560. Perlu dicatat bahwa pada kenyataan jarang terjadi grafik lonceng yang ideal seperti pada gambar tersebut, tetapi memiliki “benjolanan” ke depan atau ke belakang yang disebut front loaded dan back loaded.

Kedua-duanya tidak menguntungkan. Front loaded menunjukkan ketidaktetapan hasil guna karena terlalu banyak tenaga dibanding tersedianya pekerjaan. Sedangkan keadaan back loaded  menggambarkan adanya kenaikan jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk mengejar jadwal, yang umumnya menaikkan biaya proyek secara keseluruhan (cost-overrunt).

Metode Trapesium

Bila kurva lonceng memberikan indikasi berapa besar keperluan tenaga kerja pada waktu puncak, maka metode trapezium sering dipakai untuk memperkirakan angka keperluan puncak. Di samping itu, metode ini juga memberikan keterangan berapa lama masa puncak tersebut berlangsung. Dasar pemikiran metode ini menganggap bahwa keperluan tenaga kerja mengikuti pola sebagai berikut.

•Mulai dari titik awal (nol) naik sebagai garis miring. Periode ini disebut periode menanjak (build up periode).
•Kemudian setelah sampai di puncak, arahnya menjadi mendatar, dan disebut periode puncak (peak periode).
•Akhirnya menurun (run down) sampai proyek selesai.




Metode trapezium memakai angka-angka yang berbeda antara tahap desain-engineering dan tahap konstruksi.

1.Periode Puncak Tenaga Kerja Desain-Engineering

Di sini dipakai anggapan bahwa AD adalah total kurva waktu kegiatan desain-engineering, pembelian material, dan peralatan (termasuk waktu pabrikasi), sampai tersedia di lokasi proyek. Dari pengalaman, angka-angka yang umum untuk a,  b,  dan  c  adalah sebagai berikut.

a =20 %,  b=20%,  c=60%

2.Periode Puncak Tenaga Kerja Konstruksi

Untuk perkiraan tenaga kerja konstruksi, AD dianggap baru mulai setelah kegiatan proyek mencapa 20-30 persen, karena menunggu sampai sebagian pekerjaan desain-engineering selesai dan beberapa material yang diperlukan tiba di lokasi proyek.  Dari data empiris, perbandingan antara a,    b,  dan  c  adalah sebagai berikut.

A : b : c  =  50% : 25% = 2 : 1 : 1

Dengan cara seperti menghitung tenaga kerja desain-engineering dan pembelian, bila diketahui besar lingkup kegiatan konstruksi dan kurun waktu penyelesaiannya, maka dapat dihitung berapa besar jumlah tenaga kerja puncak dan berapa lama berlangsungnya.

Profil Tenaga Kerja Konstruksi

Untuk proyek industri proses, profil tenaga kerja konstruksi umumnya mengikuti pola tertentu, tenaga kerja konstuksi dikelompokkan menjadi tukang kayu, tukang besi, tukang pipa (termasuk instrument dan tukang las),  tukang bejana, listrik, dan buruh pembantu (helper). Masing-masing disiplin memiliki periode puncak yang berbeda.

Misalnya, tenaga kerja pemasang pipa di awal konstruksi tidak menunjukkan kenaikan yang tajam, baru setelah pemasangan peralatan (process and utility equipment) berlangsung diperlukan jumlah besar tukang pipa guna memasang pipa penghubung (process piping) peralatan yang bersangkutan, diikuti oleh pekerjaan memasang instrument dan listrik. Faktor lain yang perlu diperhatikan pada grafik tersebut adalah terjadinya kenaikan tajam pada waktu yang relatif  pendek, seperti pekerjaan pipa dan listrik.

Bila tidak direncanakan secara tetap, hal ini dapat menyebabkan kesulitan penyediaan fasilitas sementara konstruksi dan juga menurunkan produktivitas. Usaha yang sering ditempuh adalah menggeser late start dan late finish jadwal berbagai komponen pekerjaan. Dapat pula dipertimbangkan penggunaan subkontraktor jangka pendek untuk menghadapi kenaikan pekerjaan yang tajam tersebut. jenis pekerjaan konstruksi yang seringkali dapat diserahkan kepada subkontraktor adalah pemipaan, listrik, pengelasan, pengecatan, isolasi, dan instrument. Bila usaha trsebut dilakukan, maka penyelia lapangan dan personil kontrol proyek dari kontraktor utama harus aktif memantau kemajuan dan kinerja pekerjaan serta melaksanakan administrasi subkontrak. Sistematika  membuat perkiraan  dan perencanaan  tenaga kerja  konstruksi untuk proyek  gedung yang berupa grafik histrogram.

Perkiraan Tenaga Kerja Engineering

Salah satu perkiraan yang sulit dalam merencanakan tenaga kerja adalah perkiraan tenaga kerja engineering. Hal ini disebabkan karena unsur ketidakpastian yang cukup tinggi dalam masalah memperkirakan jumlah beban tugas (work load) yang dihadapi dimasa mendatang. Umumnya jumlah tenaga kerja engineering perusahaan engineering atau konstruksi diperkirakan atas dasar data-data empiris.


TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Perkiraan Tenaga Kerja Periode Puncak
Ditulis oleh Taufick Max
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://kampus-sipil.blogspot.com/2013/06/perkiraan-tenaga-kerja-periode-puncak.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.
Share on :

0 komentar:

Posting Komentar

MOHON MASUKAN DAN PENDAPAT ANDA TENTANG ARTIKEL DI ATAS JIKA DALAM TULISAN ADA YANG SALAH MOHON SARAN DAN KRITIKANNYA DALAM RANGKA PENYEMPURNAAN ILMU TEKNIK SIPIL SAYA

Materi Populer