Pengelolaan Alat-Alat Konstruksi

Posted by Taufick Max Kamis, 30 Mei 2013 2 komentar
Share on :

Pengelolaan Alat-Alat Konstruksi


 

Pengelolaan Alat-Alat Konstruksi- Di samping material dan peralatan yang akan menjadi bagian tetap dari instalasi, seperti alat penukar panas, drum, reactor, dan lain-lain, juga diperlukan alat konstruksi atau alat berat (construction equipment/heavy equipment) yang digunakan untuk membuat tenaga kerja lapangan. Dewasa ini dengan tersedianya berbagai macam alat-alat konstruksi, baik mengenai kapasitas maupun spesialisasinya, maka evektivitas dan efisiensi penggunaannya terletak kepada program pengelolaan dan tingkat disiplin dalam melaksanakan program tersebut. adapun program tersebut meliputi seleksi pengadaan, operasi dan pemeliharaan, keputusan membeli atau menyewa, dan standardisasi.

Memilih Alat-alat Konstruksi

Langka pertama dalam program tersebut adalah memilih jenis atau tipe, dan kapasitas alat alat konstruksi yang bersangkutan. Faktor-faktor yang perlu dikaji adalah:

Spesifikasi Alat Konstruksi

Bila keperluannya telah dapat diidentifikasi dengan jelas, maka kemudian ditentukan spesifikasi alat-alat konstruksi yang bersangkutan. Spesifikasi harus mempertimbangkan kondisi lapangan, jenis, dan volume pekerjaan, sebagai berikut.

•Keadaan tanah di lokasi, lunak atau banyak berkarang.
•Keadaan iklim, kering, hujan, atau salju.
•Topografi, tanah datar, rata, miring, atau berbukit, dan lain-lain.
•Jenis kegiatan (pengerjaan tanah, saluran pengangkatan, mengangkut, pengerukan, dan lain-lain).
•Jumlah atau volume, berat material, dan peralatan yang perlu diangkut ataudiangkat (lifting/rigging).

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah adanya berbagai sarana tambahan atau terkait (feature and attachment), yang memungkinkan memperluas aplikasi dan meningkatkan produktivitas, keamanan, dan kenyamanan operasi.

Produktivitas Alat konstruksi

Seleksi alat-alat konstruksi harus memperhitungkan produktivitas yang dinyatakan dalam satuan tertentu, misalnya beberapa unit tanah atau material dapat diangkut per satuan waktu, satuan berat struktur besi atau baja yang didirikan, atau meter kubik adukan beton terangkut per satuan waktu.

Pengeluaran Total Biaya Alat Konstruksi

Pengeluaran biaya amat menentukan dalam pemilihan alat-alat konstruksi, yang terdiri dari biaya pembelian (investasi), biaya operasi dan pemeliharaan. Perhitungan rata-rata biaya investasi per tahun adalah sebagai berikut.

                             S  +  E
I  = (P + B + A )  x _______________________
                                 2

I    =   Biaya investasi per tahun
P    =   pajak
B    =   Bunga
A    =   Asuransi
S    =   Harga pasar awal tahun yang bersangkutan
E    =   Harga pasar akhir tahun yang bersangkutan

Jadi, harus bisa dibedakan antara biaya investasi, operasi, dan pemeliharaan. Bila biaya investasi sudah ditentukan sejak awal maka biaya operasi dan pemeliharaan tergantung kepada kecakapan pengelolaannya.

Umur Peralatan dan penjualan Kembali

Umur peralatan adalah perkiraan berapa lama peralatan masih dapat bekerja produktif. Selain umur peralatan, harga penjualan kembali (resala value) juga harus mendapatkan perhatian yang seksama.  Informasi mengenai faktor-faktor di atas, dapat diperoleh dari data buku katalog atau keterangan dari penjual yang bersangkutan, berdasarkan pengalaman pemakai alat-alat sejenis.

Operasi Alat Konstruksi

Dalam kegiatan operasi, penggunaan alat-alat konstruksi harus diusahakan seoptimal mungkin dengan mengusahakan waktu mengangguran (idle) sekecil-kecilnya. Untuk maksut tersebut, harus disusun jadwal pemakaian bagi masing-masing unit. 

Di samping itu, para operator harus terlatih dalam menangani dan mengenal keterbatasan dan kemampuan alat-alat  konstruksi tersebut. Disiplin operasi harus betul-betul ditegakan, agar tidak terjadi penggunaan peralatan tertentu untuk tugas yang berada diluar desain atau kemampuannya, disamping menyebabkan kerusakan, juga membahayakan keselamatan, misalnya untuk alat angkat seperti  crane. 

Pada saat ini, di pasaran tersedia berbagai macam alat-alat konstruksi yang dirancang khusus untuk tugas-tugas tertentu, dengan kapasitas yang bervariasi, sehingga pemakaian peralatan tersebut harus disesuaikan dan bukan dipaksakan.

Pemeliharaan Alat Konstruksi

Kinerja serta umur produktivitas alat-alat konstruksi amat tergantung dari pemeliharaan. Apabila pada saat ini, dengan bertambah besarnya kapasitas dan kompleksitas peralatan. Bila sustu alat dengan kapasitas besar dalam sehari saja tidak beroperasi, maka akan menimbulkan dampak yang cukup besar terhadap kemajuan proyek dan kelangsungan pekerjaan-pekerjaan lain yang terkait. 

Semakin canggih peralatan akan semakin kompleks strukturnya, dan semakin banyak hal-hal yang harus di perhatikan dalam ranggka menjaga kinerja dan produktivitas.

Pemeliharaan dapat terlaksana dengan baik bila  orgnisasi yang bertanggung jawab epenuhnya atas masalah tersebut, termasuk dalam memilih personil, menyusun kebijakan dan prosedur, mendirikan bengkel perawatan, penyusun jadwal pemeliharaan, dan yang tidak kalah pentinggnya adalah membuat system pencatatan operasi dan pemeliharaan yang lengkap dan periodiku. 

Dalam menyusun program pemeliharaan, sebaiknya menghubungi pihak penjual atau manufaktur, karena mereka adalah sumber informasi yang kompeten.

Pemeliharaan Prevantif

Dahulu pemeliharaan di pusatkan kepada perbaikan bila terjadi kerusakan. Sekarang hal tersebut di anggap tidak efektif untuk menjaga produktivitas dan kinerja peralatan. Pendekatan sekarang adalah dengan mengusahakan peralatan selalu dalam kondisi prima dan siap pakai, yaitu yang dilakukan dengan mengadakan pemeliharaan preventif, yang terdiri dari mencari dan membetulkan kerusakan-kerusakan kecil sebelum menjadi terlalu besar, seperti mengecek bearing sebelum longgar, memeriksa radiator akan kemungkinan bocor, dan membuat mesin menjadi panas. 

Umumnya dilakukan dengan mengadakan pemeriksaan berkala harian atau selang tiga hari. Pemeliharaan ini bertujuan untuk mencari tanda-tanda kemungkinan terjadinya sumber kerusakan, dan membetulkannya dengan segera. Bila dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa perbaikan besar perlu dilakukan, segera disusun jadwal untuk peralatan pengganti dan waktu pelaksanaan perbaikannya.
 

Jasa penjual

Agen penjual (dealer) yang bonafide umumnya melengkapi diri dengan tenaga mekanik yang terlatih, peralatan yang cukup, dan fasilitas untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan pemeliharaan, serta masa jaminan.  Penjual umumnya memiliki instrument lengkap untuk memeriksa kondisi peralatan dan membandingkannya dengan criteria atau standar yang ditentukan oleh pabrik peralatan. 

Oleh karena itu, sebelum menentukan membangun atau tidaknya fasilitas pemeliharaan sendiri, kontraktor atau pemilik proyek hendaknya mensurvei dan mengkaji total biaya dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya, seperti merekrut dan mengkaji tenaga mekanik, membangun bengkel, persediaan suku cadang, overhead, dan masa perbaikan yang mungkin lebih lama dibanding bila dilakukan oleh bengkel penjual.

Persediaan Suku Cadang

Guna mencegah berhentihnya operasi alat-alat konstruksi berkepanjangan, diperlukan persediaan (inventory) suku cadang. Jenis dan volumenya amat dipengaruhi oleh letak lokasi proyek. Di daerah terpencil yang jauh dari agen penjual dan bengkel, maka pertama-tama kontraktor hendaknya mengadakan kontak dengannya untuk mengetahui sejauh mana jasa dan fasilitas yang tersedia. Bila memungkinkan, kontraktor hanya perlu menjaga persediaan suku cadang bagi perbaikan sehari-hari, dan bagian-bagian yang sudah diperkirakan akan dipakai dalam waktu dekat.

Organisasi pengelolaan

Untuk proyek E-MK non-industri, terutama yang memiliki lingkup kerja mempersiapkan lahan cukup besar, seperti proyek membuat landasan pacu pesawat, proyek jalan raya, atau real estate, maka komponen biaya yang berkaitan dengan peralatan berat atau konstruksi dapat mencapai 25-35 persen dari total biaya proyek. Oleh karena itu,  agar pengelolaannya dapat berjalan efektif dan efisien, dibentuk bagian yang khusus bertanggung jawab atas atas operasi dan pemeliharaan. Masing-masing tugas dan tanggung jawab subbagian operasi dan pemeliharaan telah disinggung di atas. 

Ada pun tugas-tugas subbagian administrasi dan perencanaan meliputi identifikasi peralatan, menyusun jadwal operasi, jadwal pemeliharaan, catatan-catatan pemeliharaan dan perbaikan, serta persediaan suku cadang. Seiring dengan itu, bagian dari administrasi harus selalu mengikuti kemajuan teknologi alat-alat konstruksi. Untuk masing-masing peralatan konstruksi, catatan yang dipersiapkan antara lain meliputi:

•    Lama pakai atau bekerja per hari, perminggu dan per bulan:
•    Siap pakai (stand by);
•    Menganggur, karena menungu perbaikan atau perencanaan yang kurang tepat;
•    Perbaikan, lama dan macamnya;
•    Persentase utilisasi;
•    Jam-orang untuk pemeliharaan dan perbaikan;
•    Biaya suku cadang;

Dengan tersedianya catatan-catatan diatas, maka dapat dianalisis biaya operasi dan pemeliharaan, berikut tindakan-tindakan yang harus diambil, baik mengenai perencanaan pemeliharaan ataupun penggantian.

Baca Artikel Lain di Bawah ini :


TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Pengelolaan Alat-Alat Konstruksi
Ditulis oleh Taufick Max
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://kampus-sipil.blogspot.com/2013/05/pengelolaan-alat-alat-konstruksi.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.
Share on :

2 komentar:

Andi Erwanto mengatakan...

Salam Kenal Gan,, mantabb ni artikel,bisa untuk yang lagi kuliah di teknik,atau bagi para subkon..

Visit my Blog

Taufick Max mengatakan...

Salam kenal Juga Mas Andi... Blog Mutingpost Mas Juga Bagus..

Posting Komentar

MOHON MASUKAN DAN PENDAPAT ANDA TENTANG ARTIKEL DI ATAS JIKA DALAM TULISAN ADA YANG SALAH MOHON SARAN DAN KRITIKANNYA DALAM RANGKA PENYEMPURNAAN ILMU TEKNIK SIPIL SAYA

Materi Populer