Tipe Jaringan Rute Angkutan Umum

Posted by Taufick Max Rabu, 10 April 2013 0 komentar
Share on :

Tipe Jaringan Rute Angkutan Umum

Haiiii....Apa Kabar ????????

 


Secara umum, bentuk-bentuk dasar dari jaringan rute angkutan umum dapat dibedakan menjadi 5 kelompok, yaitu: jaringan berbentuk grid, linier, radial, modifikasi radial,  dan teritorial.

Tipe Jaringan Grid (orthogonal)

 

Dinamakan  grid karena jalur-jalurnya membentuk grid, sebagian  menuju ke arah pusat kota dan sebagian lainnya tidak. Pelayanan dapat merata ke seluruh bagian kota, cocok untuk daerah metropolitan, tetapi  banyak titik perpindahan sehingga biaya yang dikelurkan oleh penumpang menjadi tinggi.

Jaringan rute berbentuk grid atau orthogonal ini hanya mungkin terbentuk jika struktur jaringan jalannya juga berbentuk grid. Di kota-kota baru yang ada di Amerika, banyak dijumpai jaringan rute berbentuk grid. Hal ini dimungkinkan karena struktur jaringan jalan yang ada juga berbentuk grid, sehingga bentuk jaringan seperti ini mudah diaplikasikan.

Jaringan rute berbentuk grid atau orthogonal ini hanya mungkin terbentuk jika struktur jaringan jalannya juga berbentuk grid. Di kota-kota baru yang ada di Amerika, banyak dijumpai jaringan rute berbentuk grid. Hal ini dimungkinkan karena struktur jaringan jalan yang ada juga berbentuk grid, sehingga bentuk jaringan seperti ini mudah diaplikasikan.

Karakteristik dasar dari struktur grid ini adalah adanya lintasan rute yang secara paralel mengikuti ruas-ruas jalan yang ada, dari pinggir kota yang satu ke pinggir kota lainnya, dengan melewati pusat kota (CBD) yang letaknya ditengah. Tentu saja tidak semua lintasan rute melewati daerah CBD, yakni agar jaringan yang terbentuk dapat merata untuk melayani semua daerah perkotaaan.

Keuntungan utama dari struktur jaringan seperti ini adalah bahwa sistem rute yang terbentuk menjadi mudah diingat dan juga mudah dimengerti oleh masyarakat luas. Selain itu daerah perkotaan yang tercakup oleh pelayanan angkutan umum menjadi lebih merata.Dengan bentuk jaringan seperti ini calon penumpang dimungkinkan untuk dapat menggunakan angkutan umum di manapun dia berada, untuk bepergian ke manapun yang diinginkan.

Perlu diingat bahwa dengan struktur jaringan berbentuk grid  ini,  tidak semua arah pergerakan dari satu daerah asal ke tempat tujuan dapat dipenuhi dengan hanya menggunakan satu lintasan rute saja, melainkan diperlukan pergantian lintasan rute (transfer).  Dengan adanya transfer ini, penumpang akan merasakan bahwa waktu perjalanan menjadi bertambah lama, karena diperlukan tambahan waktu untuk pindah dari satu lintasan rute ke lintasan rute lainnya, serta adanya waktu tunggu.

Secara umum dapat dikatakan bahwa bentuk jaringan grid ini sangat cocok untuk kota-kota besar, terutama untuk daerah pusat kota yang cukup padat,  yang memliki struktur jaringan jalan yang berbentuk grid. Untuk daerah pinggir kota (sub-urban) struktur jaringan bentuk grid ini hanya ccok untuk lintasan-rute yang menuju ke pusat kota. Untuk lintasan rute yang hanya melayani daerah sub-urban struktur jaringan seperti ini tidaklah sesuai.

Tipe Jaringan Linier

Terdiri dari jalur utama yang menghubungkan dua titik dan feeder-feeder. Tipe ini mudah dalam pembuatan rute tetapi mengakibatkan kemacetan di jalur utama serta banyaknya titik-titik  perpindahan.  Tipe ini ideal untuk dua moda yang dioperasikan, misalnya jalur rel sebagai thrunk line dan bus-bus sebagai feeder-feeder.

Jaringan rute berbentuk linear biasanya terjadi karena kotanya juga berbentuk linear. Bentuk kota linear adalah bentuk kota yang memanjang, mengikuti jalan arteri utama. Kota ini biasanya terbentuk sebagai kelanjutan dari ribbon-development pada jalan-jalan arteri antar kota. Pada dasarnya bentuk jaringan linear seperti ini hampir sama dengan bentuk jaringan grid, hanya saja grid yang dimaksud adalah suatu daerah yang memanjang di-kiri-kanan jalan arteri utama.

Tipe Jaringan Radial

Struktur jaringan berbentuk radial merupakan bentuk yang paling sering ditemui di kota-kota besar dunia.  Hal ini mudah dimengerti, mengingat sebagian besar kota-kota di dunia merupakan kota-kota yang tumbuh secara evolutive dan mengembang dari pusat kota secara radial ke pinggir-pinggirnya. Struktur jaringan seperti ini biasanya didukung oleh struktur jaringan jalannya yang cenderung secara radial berorientasi ke daerah CBD yang terletak di tengah kota.

Koridor utama menuju pusat kota. Rute angkutan umum dapat memotong pusat kota, berhenti, atau memutar ke arah semula.  Terminal biasanya satu buah di pusat kota dan beberapa di  pinggir kota. Semua rute yang ada dalam sistem jaringan radial ini menghubungkan daerah pinggir kota dan daerah pusat kota.  Ada juga lintasan-lintasan rute yang melingkar tidak melewati daerah pusat kota. Hampir semua lintasan rute yang ada bertemu di titik terminal ini, sehingga memudahkan orang untuk bertukar bus, sesuai dengan arah tujuan perjalanannya.

Untuk pergerakan yang terjadi antar daerah pinggiran,  yang bersifat melingkar, bentuk struktur jaringan seperti tidak begitu menguntungkan. Jika menggunakan angkutan umum, maka akan dibutuhkan jumlah transfer yang cukup banyak.  Kerugian lain  dari struktur jaringan berbentuk radial ini adalah karena tingkat pelayanan yang buruk di daerah CBD. Pada daerah CBD, beban lalulintas cukup tinggi, sehingga  sering terjadi kemacetan,  yang pada gilirannya akan mengganggu pengoperasian angkutan umum. Struktur jaringan tipe radial ini paling sesuai diterapkan untuk kota yang tidak terlalu besar, di mana tingkat kemacetan yang terjadi di pusat kota tidak begitu tinggi.

Tipe Jaringan teritorial

Konfigurasi jaringan rute territorial membagi-bagi daerah pelayanan menjadi beberapa teritori, dengan masing-masing daerah pelayanan  dilayani oleh satu lintasan rute. Pada sistem ini  semua lintasan rute bertemu atau bersinggunggan di suatu titik yang dapat digunakan sebagai titik transfer. Titik transfer biasanya merupakan daerah dengan tingkat kegiatan yang cukup tinggi, misalnya daerah pertokoan,  pusat hiburan, dan lain-lain.

Konfigurasi jaringan rute territorial membagi-bagi daerah pelayanan menjadi beberapa teritori, dengan masing-masing daerah pelayanan  dilayani oleh satu lintasan rute. Pada sistem ini  semua lintasan rute bertemu atau bersinggunggan di suatu titik yang dapat digunakan sebagai titik transfer. Titik transfer biasanya merupakan daerah dengan tingkat kegiatan yang cukup tinggi, misalnya daerah pertokoan,  pusat hiburan, dan lain-lain.

Untuk daerah sub-urban atau kota kecil yang bercirikan tingkat kerapatannya rendah, konfigurasi rute bentuk ini sangatlah cocok. Ciri yang lain adalah adanya suatu  lokasi tertentu yang berfungsi sebagai  pusat kegiatan (ekonomi, sosial ataupun budaya) yang melayani daerah sekitarnya. Titik di mana terjadi transfer disebut sebagai 'focal point’.

Titik 'focal pint' ini menjadi tempat di mana seluruh lintasan rate bertemu. Agar pemanfaatan lintasan rute efektif, pengoperasian setiap lintasan rute diatur sedemikian sehingga pada saat sampai di lokasi 'focal point' semua bus bertemu pada suatu perioda waktu yang sama, sehingga para penumpang dengan mudah dapat bertukar bus atau transfer. Karena adanya mekanisme seperti ini, lokasi di mana terjadi pusat transfer ini disebut juga sebagai 'timed transfer center’ atau 'time transfer focal point'.

Secara fisik 'time transfer focal point’ bentuknya berbeda dengan terminal biasa. Bentuk yang umum adalah berupa platform tersendiri (off-street platform), di mana sekitar delapan sampai duabelas bus dapat diparkirkan. Biasanya focal point seperti itu digunakan dengan cycle time setiap 30 menit. Untuk sekitar 15 sampai 20 menit, platform focal point sama sekali kosong, kemudian muncullah para calon penumpang. Selanjutnya bus muncul dari setiap lintasan rute dan mengisi semua tempat yang ada di platform.

Semua penumpang yang ingin turun, ingin naik ataupun ingin berpindah bus (transfer) dapat melakukannya segera. Setelah itu, setelah kegiatan naik, turun dan berganti lintasan bus selesai, semua bus segera berangkat meninggalkan platforms focal point. Dan untuk sekitar 15 sampai 20 menit selanjutnya focal point sepi lagi, sampai perioda berikutnya terjadi aktifitas yang sama lagi.

Tentu saja agar mekanisme yang dijelaskan di atas dapat terjadi, perlu dilakukan koordinasi skedul pada seluruh Lintasan yang akan melewati focal point.  Mengingat bahwa jaringan seperti ini biasanya diaplikasikan di kota kecil ataupun daerah sub-urban, di mana volume lalu-lintas relatif rendah, adalah tidak sulit untuk melakukan koordinasi skedul.  Lain halnya jika jaringan rute ini diaplikasikan di kota besar dengan volume lalu-lintas yang tinggi. Akan sangat sulit mendapatkan koordinasi yang baik.

Lokasi focal point biasanya ditempatkan di daerah di mana trip generation-nya cukup tinggi, seperti: pusat kegiatan masyarakat, pusat rekreasi atau pusat pertokoan.

Dengan menempatkan focal point pada daerah-daerah tersebut maka focal point mempunyai tiga peran, yaitu sebagai :

1. Sebagai titik hubung dengan rute utama ke CBD (trunk routes)
2. Sebagai titik hubung dengan setiap lntasan rute, dan
3. Untuk melayani pusat kegiatan


Konfigurasi jaringan rute seperti ini belum ada di Indonesia. Berdasarkan pengalaman yang ada di negara-negara barat, konfigurasi jaringan rute seperti ini banyak diterapkan di daerah-daerah pemukiman di pinggir kota, di mana 'focal point’nya ditempatkan di pusat kegiatan masyarakat yang sekaligus sebagai ujung dan 'trunk routes’ ke CBD.

Dari hasil pengalaman yang ada, meskipun tingkat pemilikan kendaraan dari daerah sub-urban yang dilayani cukup tinggi, jaringan rute dengan konfigurasi teritorial ini cukup efektif dalam melayani pergerakan penumpang. Cukup banyak masyarakat yang menggunakan fasilitas angkutan umum.

Tipe Jaringan Modifikasi Radial

Salah satu kelemahan dari konfigurasi jaringan berbentuk radial adalah sulitnya pergerakan yang terjadi antar sub-sub kegiatan yang ada di kota.  Salah satu kelemahan dari konfigurasi jaringan berbentuk radial adalah sulitnya pergerakan yang terjadi antar sub-sub kegiatan yang ada di kota.

Hal ini disebabkan karena orientasi lntasan rute pada konfigurasi berbentuk radial ini adalah terkonsentrasi ke CBD. Kalaupun ada lintasan rute yang melayani dengan orientasi melingkar ataupun antar sub-pusat kegiatan, jumlahnya relatif kecil.

Untuk mengantisipasi kelemahan dari jaringan berbentuk radial ini, dilakukan modifikasi, yaitu dengan menambah lintasan rute yang menghubungkan antar sub-pusat kegiatan dan juga antara sub-pusat kegiatan dengan CBD. Dengan demikian orientasi lintasan rute tidak lagi terpusat ke CBD, tetapi juga ada dalam jumlah yang cukup banyak yang mempunyai orientasi spasial yang melingkar ataupun yang langsung menghubungkan antar sub-pusat kegiatan. Konfigurasi rute seperti ini disebut juga sebagai konfigurasi jaringan rute Modifikasi Radial.

Keuntungan utama dari konfigurasi ini adalah lebih dimungkinkannya penumpang untuk dapat menggunakan angkutan umum di manapun dia berada untuk bepergian ke manapuntujuannya.  Tapi perlu disadari di sini bahwa akibat dari struktur jaringan yang demikian, maka   perjalanan   akan   membutuhkan   lebihbanyak   transfer   dibandingkan   dengan konfigurasi radial biasa.

Demikianlah sedikit pembahasan tentang Tipe Jaringan Rute Angkutan Umum  semoga bermanfaat. Jika ada yang salah mohon diberikan komentar dibawah ini.
 
 
Anda Bisa Membaca Artikel lain tentang Transportasi  dibawah ini. Jika anda suka mohon Like dan di Bagikan ke teman-teman  yang lain. Terima Kasih

  1. 10 Rel Kereta Api Terindah di Dunia
  2. Alat Transportasi
  3. Alat Transportasi : Angkutan Individu - New !!
  4. Bus Rapid Transit-Busway
  5. Jalan Baja : Rel Kereta Api
  6. Jalan Tol Pertama di Indonesia
  7. Katagori Angkutan Umum - New !!
  8. Kebijakan Pembangunan Transportasi Indonesia
  9. Kenapa Butuh Perencanaan Jalan Raya
  10. Kereta Api Perkotaan Indonesia
  11. Konsep Pengelolaan Angkutan Umum Di Perkotaan - New !!
  12. Lintasan Rute Angkutan Umum - New !!
  13. PT. Adhy Karya Pelaksana Jalan Tol Bali.
  14. PT. Hutama Karya pada Proyek Jalan Tol
  15. PT.Waskita Karya Pelaksana Proyek Tol Bali
  16. Panduan Moda Transportasi Indonesia
  17. Pengertian Angkutan Umum - New !!
  18. Pengertian Sistem Transportasi Indonesia
  19. Penggolongan Angkutan Umum - New !!
  20. Peranan Angkutan Umum - New !!
  21. Perbandingan Kereta Api Indonesia China
  22. Perencanaan Strategis Angkutan Umum - New !!
  23. Proses Evaluasi Angkutan Umum Indonesia
  24. Proyek Underpass Simpang Dewa Ruci Bali.
  25. Strategi Kebijakan Transportasi Angkot Bagian 2
  26. Strategi Kebijakan Transportasi Angkot 1
  27. Strategi Kebijakan Transportasi Umum
  28. Strategi Kebijakan Transportasi Umum 2
  29. Struktur Jaringan Rute Angkutan Umum - New !!
  30. Tipe Pelayanan Rute Angkutan Umum - New !!
  31. Transportasi Angkutan Umum Taksi


TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Tipe Jaringan Rute Angkutan Umum
Ditulis oleh Taufick Max
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://kampus-sipil.blogspot.com/2013/04/tipe-jaringan-rute-angkutan-umum.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.
Share on :

0 komentar:

Poskan Komentar

MOHON MASUKAN DAN PENDAPAT ANDA TENTANG ARTIKEL DI ATAS JIKA DALAM TULISAN ADA YANG SALAH MOHON SARAN DAN KRITIKANNYA DALAM RANGKA PENYEMPURNAAN ILMU TEKNIK SIPIL SAYA

Materi Populer