Perilaku Siklus Proyek Konstruksi secara umum

Posted by taufick max Selasa, 10 Desember 2013 1 komentar

Perilaku Siklus Proyek Konstruksi secara umum

Kontrol Biaya Proyek, Pengendalian Biaya Konstruksi, Manajemen Proyek, Manajemen Pembiayaan
Pengendalian Biaya
Di samping perilaku masing-masing tahap, seperti yang telah kita bahas pada materi sebelumnya tentang Ringkasan Kegiatan dalam Siklus Proyek maka terdapat pula perilaku yang melekat pada siklus proyek secara keseluruhan yang melewati batas-batas penahapan yang ada. Di antaranya adalah sebagai berikut :

Perubahan Titik Berat Pengelolaan

Dengan bergerak majunya kegiatan mengikuti pola siklus proyek, maka titik berat pengelolaan berubah dari perencanaan ke pengendalian. Perencanaan diawali dengan kegiatan-kegiatan proyek dengan menentukan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan apa, kapan, dan oleh siapa dilakukan dalam rangka mencapai sasaran. Sedangkan pada periode selanjutnya diperlukan pemantauan, bimbingan, dan koreksi agar hasil implementasi pekerjaan sesuai dengan sasaran yang telah ditentukan, yaitu lingkup, biaya, jadwal dan mutu.
Semakin ramai pekerjaan dilakukan, semakin tinggi kadar pengendalian yang diperlukan. Pada periode ini perencanaan tetap diperlukan dan sering merupakan revisi atau penyesuaian atas dasar informasi dan umpan balik dari kegiatan pengendalian, tetapi volume perencanaan tersebut relatif semakin kecil dibandingkan dengan pengendalian.

Perencanaan Biaya, pengendalian Resiko Proyek, Pengendalian Biaya Proyek

Potensi Pengendalian Biaya

Di atas telah dijelaskan bahwa, sejalan dengan kemajuan pelaksanaan pekerjaan, titik berat pengelolaan bergeser dari perencanaan ke pengendalian. Meskipun demikian, salah satu aspek pengelolaan, yaitu pengendalian biaya, justru memiliki potensi paling besar untuk mendapat hasil yang substansial pada awal proyek dan menurun pada tahap-tahap berikutnya. Pengendalian biaya harus diwaspadai pada periode ini karena bila masa yang singkat itu telah lewat, maka potensi besar itu pun ikut lenyap.

Pengendalian Proyek Konstruks, Manajemen Proyek Konstruksi
Pengendalian Biaya Proyek

Menurunnya Risiko Sejalan dengan Kemajuan Proyek

Karena berbagai alasan, pada awal proyek banyak informasi yang diperlukan untuk menyusun biaya, jadwal dan kriteria mutu belum cukup tersedia. Dengan demikian, terdapat risiko bahwa proyek tidak mencapai sasaran dalam aspek tersebut. Dalam hal ini yang dimaksud dengan risiko adalah risiko murni (bukan risiko usaha). Untuk menutupinya, umumnya disediakan kontinjensi baik dalam anggaran maupun jadwal.

Sejalan dengan kemajuan pelaksanaannya, informasi dan hal-hal lain yang diperlukan berangsur-angsur mulai tersedia, misalnya harga peralatan, materiat dan upah tenaga kerja. Keadaan ini berarti menurunkan tingkat ketidakpastian dan risiko (uncertainity and risk). Meskipun demikian, nilai dampak risiko (amount at stake), biasanya diukur dengan biaya yang dikeluarkan, cenderung naik dihitung dari tahap awal konseptual sampai pada akhir implementasi.

Estimasi Biaya Proyek, Manajemen Pembiayaan Proyek, Pengendalia Biaya Konstruksi

Perubahan Lingkup versus Siklus Proyek

Secara umum dapat dikatakan bahwa proyek selalu mengalami perubahan lingkup.Hanya, perlu diingat b ahwa perubahan lingkup proyek (penambahan atau pengurangan) akan memiliki dampak yang lebih besar sejalan dengan kemajuan proyek. Semakin jauh kemajuan implementasinya, semakin banyak komponen lingkup yang telah diselesaikan.

Mengingat keterkaitan berbagai komponen lingkup tersebut, harus dihindari adanya perubahan lingkup pada waktu implementasi sudah berjalan jauh karena dampaknya terhadap biaya dan jadwal yang mungkin timbul akan berlipat ganda dibandingkan bila perubahan lingkup tersebut terjadi pada awal siklus proyek.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengenalan dan pengertian yang tepat akan perilaku yang ada selama siklus proyek ataupun pada masing-masing tahap yang bersangkutan akan memberikan pegangan bagi pengelola dalam usahanya merencanakan dan mengendalikan pemakaian sumber daya sebaik-baiknya.


Demikianlah Materi tentang Perilaku Siklus Proyek Konstruksi Secara Umum. Anda bisa membaca Materi sebelumnya yaitu tentang Siklus Proyek antara Pemilik dan Kontraktor. Jika anda menyukai Materi di kampus sipil ini anda bisa IKUTI Updatennya melalui Facebook ( KLIK FOLLOW ). Materi selanjutnya yaitu tentang " Evolusi Penggunaan Ilmu Manajemen Proyek.




Baca Selengkapnya ....
Share on :

Siklus Proyek Pemilik dan Kontraktor

Posted by taufick max 0 komentar

Siklus Proyek Pemilik dan Kontraktor

Siklus Proyek Pemilik dan Kontraktor- Siklus proyek yang telah dibicarakan sebelumnya dapat diperinci lebih jauh untuk pemilik dan kontraktor. Siklus proyek pemilik relatif berbeda dengan kontraktor (utama), terutama dalam suatu kontrak lump-sum saat kontraktor mengerjakan engineering.

Pengadaan dan konstruksi dilakukan pada tahap implementasi fisik. Pada tahap konseptual pemilik mengkaji kelayakan proyek, dilanjutkan dengan menyusun perencanaan strategis penyelenggaraan proyek, menyiapkan perangkat (dokumen lelang, SIMP, dan lain-lain) dan peserta (tim proyek pemilik, kontraktor dan mungkin juga konsultan).

Pada kedua tahap ini kontraktor belum ada. Umumnya baru pada akhir tahap PP /Definisi mereka (melalui bidang Bussiness atau Pemasaran) mengadakan pendekatan-pendekatan kepada pemilik untuk ikut lelang.

Ilustrasi Meeting


Bagi kontraktor, perencanaan intensif dimulai setelah penandatanganan kontrak EPK atau penerimaan letter of intent, yaitu dalam rangka menyusun Rencana Implementasi Proyek (RIP-k). RIP-kontraktor ini dipresentasikan dalam suatu internal kick-off meeting dan setelah diadakan perubahan yang diperlukan kemudian dipakai sebagai dasar materi kickoff meeting dengan pemilik dan pembuatan "control budget" atau disebut juga Anggaran Definitif Proyek (ADP) dan jadwal induk.

Selanjutnya, ADP dan jadwal induk digunakan sebagai tolok ukur proses pengendalian sampai proyek selesai (u-v). Setelah menyerahkan pekerjaan implementasi fisik kepada kontraktor, tugas utama pemilik adalah melakukan pemantauan dan pengendalian seperti pengendalian perubahan lingkup, change order, pembayaran, jadwal dan pengendalian mutu.

Gambar dibawah ini menunjukkan garis besar langkah yang ditempuh pemilik dan kontraktor selama siklus proyek.

Klik Gambar Untuk Perbesar

Keterangan Gambar

  • a-b    Studi kelayakan
  • b-c    Menentukan strategi penyelenggaraan , setelah menilai kekuatan dan kelemahan perusahaan .
  • c-d    Menyusun perencanaan operasional
  • d    Anggaran Biaya Proyek (ABP) dan Jadwal induk
  • d-e    Membuat rancangan kontrak dan paket lelang (RFP)
  • e-f    Proses lelang (mengirim RFP kepada peserta lelang) dan menentukan pemenang, keputusan strateg1s "go or not to go" untuk realisasi 1nvestasi/proyek.
  • f-g    Merencanakan program pengendalian.
  • g-h    Memantau dan mengendalikan kegiatan implementasi
Klik Gambar Untuk Perbesar

Keterangan Gambar

  • o-p    Pengembangan usaha ( Business Development) .
  • q       Menerima dokumen lelang/RFP
  • p-q    Menyiapkan proposal.
  • q-r    Negos1asi kontrak.
  • r       Tanda tangan kontrak dilan]utkan dengan rapat "ProJect Launching".
  • r-s    Membuat Rencana Implementasi Proyek (RIP kontraktor) .
  • s       Presentasi RIP-K (Kick-off meeting Internal )
  • t       Kick-off meeting dengan pemilik.
  • t-u    Menyiapkan "control budget" dan Jadwal Induk.
  • u-v    Melakukan pekerjaan implementasi fisik.
  • u-v    Melaksanakan kegiatan pengendalian

Demikianlah sedikit pembahasan kita kali ini tentang Siklus Proyek Untuk Pemilik dan Kontraktor anda bisa membaca Materi sebelumnya tentang Ringkasan Kegiatan dalam Siklus Proyek. sementara Materi Berikutnya yaitu Perilaku Selama Suklus Proyek. Jika anda menyukai Materi ini, Bisa anda IKUTI Updetannya Melalui Facebook.



Baca Selengkapnya ....
Share on :

Ringkasan Kegiatan dalam Siklus Proyek

Posted by taufick max Sabtu, 07 Desember 2013 0 komentar

Ringkasan Kegiatan dalam Siklus Proyek

Pembahasan kita kali ini berhubungan dengan Tahapan Siklus Proyek Menurut PMI yang telah kita bahas sebelumnya atau bisa dikatakan inilah kelanjutannya.

Berikut adalah Ringkasan tahapan Kegiatannya :

Proyek Engineering Konstruksi

Beberapa kegiatan utama proyek E-K terdiri dari kegiatan-kegiatan Konseptual, PP Defenisi, Implementasi dan Terminasi.

Kegiatan Konseptual yaitu :

1. Perumusan Gagasan
2. Kerangka Acuan
3. Studi Kelayakan
4. Indikasi Dimensi Lingkup Proyek
5. Indikasi Biaya dan Jadwal

Kegiatan PP defenisi yaitu :

1. Pendalaman berbagai aspek Persoalan
2. Desain Engineering dan Pengembangan
3. Pembuatan jadwal induk dan anggaran, melanjutkan kelanjutan investasi
4. Penyusunan Strategi penyelenggaraan dan rencana pemakaian sumber daya
5. Pembelian dini
6. Penyiapan perangkat dan peserta

Kegiatan Implementasi yaitu

1. Desain Engineering terinci
2. Pembuatan spesifikasi dan kriteria
3. Pemberian peralatan dan material
4. Pabrikasi dan Konstruksi
5. Inspeksi Mutu
6. Uji coba kemampuan
7. Mechanical Completion

Kegiatan Terminasi yaitu :

1. Start Up
2. Demobilisasi laporan penutup

Sehingga kalau dibuatkan dalam bentuk tabel maka akan nampak seperti tabel Berikut :

Klik Gambar Untuk Perbesar

Proyek Engineering-Manufaktur

Beberapa kegiatan proyek engineering manufaktur berbeda dengan proyek E-K, misalnya adanya kegiatan membuat prototip sebelum melakukan produksi penuh.

Berikut adalah Ringkasan Kegiatannya :

Desain dan Pengembangan Produk

Setelah lulus pengkajian kelayakan dari bermacam- macam aspek pada tahap konseptual, maka kegiatan proyek E-K dilanjutkan dengan desain dan pengembangan produk Kegiatan ini terdiri dari :
  1. Analisis fungsi dan desain-engineering. Kegiatan pokok di sini adalah melakukan analisis fungsi dan desain engineering dari produk yang akan dibuat beserta komponen-komponennya.
  2. Desain-engineering terinci dan pengembangan produk. Kegiatan pokok di sini adalah menjabarkan dan menerjemahkan yang telah dikerjakan pada butir a menjadi spesifikasi, kriteria dan gambar-gambar desainengineering untuk dipakai sebagai pedoman dalam proses pembelian material, manufaktur, perakitan, dan uji coba.

Sistem lntegrasi

Dalam hubungan ini dilakukan pula studi perihal integrasi dan kaitannya (interface)dengan fasilitas dan peralatan yang telah ada di bengkel (pabrik) tersebut.

Membuat Prototip (Prototype)

Seringkali sebelum menghasilkan produk akhir, dibuat terlebih dahulu prototip (prototype). Dari prototip terse but kemudian dilakukan uji coba (tes ting). Data dan informasi yang dihasilkan dianalisis dan dikembangkan lebih jauh untuk menjadi masukan pada kegiatan berikutnya.

Manufaktur (Produksi)

Kegiatan ini terdiri dari pembelian material dan peralatan serta pabrikasi komponen produk. Kegiatan ini dikerjakan oleh bidang manufaktur perusahaan yang bersangkutan atau diserahkan kepada subkontraktor.

Perakitan dan lnstalasi

Kegiatan akhir dari proyek E-M adalah merakit dan menginstal komponen-komponen produk menjadi produk akhir, mengadakan tes, inspeksi, dan uji coba sebelum diserahkan kepada pemesan.

Proyek Penelitian dan Pengembangan

Ikhtisar komponen kegiatan utama proyek penelitian dan pengembangan terlihat pada Tabel Berikut Ini

Klik gambar Untuk memperbesar

Proyek Pelayanan Manajemen

Proyek golongan ini terdiri dari herhagai macam hentuk dan kegiatan. Pada umumnya hasil akhirnya herhentuk nonfisik, misalnya laporan hasil studi atau penelitian manajemen. Contoh jenis proyek tersehut adalah studi untuk memperhaiki efisiensi kerja suatu perusahaan. Langkah-langkah yang diambil umumnya mengikuti urutan herikut:


Tahap Konseptual

Mengkaji persoalan atau keperluan yang dihadapi. Jadi,di sini diusahakan men ggali dan merumuskan penyebab terjadinya keadaan yang tidak efisien tersehut. Bila telah ditemukan indikasi sumber atau inti penyebab persoalan, maka ditelusuri lebih lanjut seberapa jauh akihat atau pengaruhnya terhadap sistem keseluruhan.

Dari pengkajian persoalan ini, seringkali muncul pula pemikiran mengenai arah pemecahannya. Dalam contoh ini misalnya, terungkap bahwa sumber persoalan disebahkan oleh sistem komunikasi dan prosedur kerja yang tidak lagi dapat mengikuti perkembangan perusahaan. Akibatnya, kejadian penyimpangan di daerah atau sektor yang baru dikemhangkan terlamhat diketahui atau dideteksi.

Tahap PP/Definisi

Meskipun pada tahap sebelumnya telah disinggung adanya pemikiran mengenai arah pemecahan persoalan, hal ini masih dalam tahap konseptual. Baru dalam tahap studi ini aspek pemecahan persoalan mendapatkan perhatian sepenuhnya untuk dikaji secara mendalam.

Dalam konteks contoh di atas, jalan keluarnya adalah melakukan perampingan organisasi, menambah fasilitas komunikasi, dan menyempurnakan prosedur laporan dan pemantauan. Tahap ini ditutup dengan membuat laporan sementara (interin report) perihal usulan di atas, termasuk indikasi biaya dan jadwal yang diperlukan bila usulan tersebut dilaksanakan.

Tahap Implementasi

Pada tahap ini segala rencana dan usulan tahap terdahulu, setelah ditemukan alternatif yang dianggap terbaik, dirinci, dijabarkan, dihitung, dan disusun menjadi suatu sistem yang bila direalisasikan diperkirakan dapat memecahkan persoalan yang dihadapi oleh perusahaan.

Dalam contoh di atas, ini herarti melakukan kegiatan menyusun organisasi yang diusulkan, berikut kualifikasi personil untuk posisi kunci, membuat kriteria dan spesifikasi teknis fasilitas dan peralatan komunikasi yang diinginkan, kemudian menyiapkan prosedur operasional pelaporan dan pemantauan. Ini semua dituangkan dalam laporan akhir yang juga membuat jadwal dan biaya yang diperlukan.

Tahap Operasi atau Utilisasi

Perusahaan yang memberi tugas menerima laporan akhir kemudian membahasnya untuk menentukan direalisasi atau tidaknya usulan yang dimuat dalam laporan tersebut. Bila direalisasi maka laporan dapat digunakan sebagai pedoman untuk pelaksanaan.

Demikianlah Ringkasan Kegiatan dalam Siklus Proyek, anda bisa membaca tulisan sebelumnya yaitu tentang Tahapan Siklus Proyek Menurut PMI. Materi berikutnya berhubungan dengan Siklus Proyek untuk Pemiliki dan Kontraktor. Materi selanjutnya yaitu tentang  Siklus Proyek Untuk Pemilik dan Kontraktor Jika ada Menyukai Materi ini, anda bisa IKUTI UPDETAN Materinya melalui Facebook.





Baca Selengkapnya ....
Share on :

Tahapan Siklus Proyek Menurut PMI

Posted by taufick max 0 komentar

Tahapan Siklus Proyek Menurut PMI

Siklus Proyek PMI, tahapan Proyek PMI, Fungsi Tahapan Proyek, Tujuan Tahapan Proyek
Tahapan Siklus Proyek PMI
Tahapan Siklus Proyek Menurut PMI- Kita telah Membahas sebelumnya tentang Dinamika dalam Siklus Proyek, dimana banyak asumsi dari berbagai Lembaga tentang Tahapan dalam Proyek. Pada kesempatan ini kita akan membahas tentang Salah Satu Asumsi tersebut yakni Tahapan Sikulus Proyek menurut PMI.

Menurut PMI ( Project Management Institute ) tahapan siklus proyek terdiri dari :

Tahap konseptual

Periode ini terdiri dari beberapa kegiatan, yaitu penyusunan dan perumusan gagasan, analisis pendahuluan dan pengkajian kelayakan. Salah satu kegiatan utama yang bersifat menyeluruh ("comprehensive"), dalam tahap ini yang mencoba menyoroti segala aspek mengenai layak tidaknya suatu gagasan untuk direalisasikan, disebut studi kelayakan. 

Dibandingkan dengan pengkajian yang dilakukan sebelumnya, studi kelayakan mempunyai lmgkup dan aspek pengkajian yang lebih luas, mendorong potensi yang positif dan menaruh perhatian khusus terhadap kendala dan keterbatasannya.

Deliverable akhir tahap konseptual adalah paket atau dokumen hasil studi kelayakan. Dokumen tersebut umumnya berisi analisis berbagai aspek kelayakan seperti pemasaran, permintaan, teknik, produksi, manajemen dan organisasi. Dokumen tersebut juga berisi perkiraan garis besar biaya dan jadwal proyek.

Perencanaan Proyek, Pelaksanaan Proyek, Pengendalian Proyek

Tahap perencanaan dan pengembangan PP/Defenisi

Telah disebutkan sebelumnya bahwa pada masa permulaan siklus proyek, kegiatan ditujukan untuk mengidentifikasi dan merumuskan gagasan, mengembangkannya menjadi altematif, lengkap dengan indikasi lingkungan kerja, jadwal dan biaya. 

Meskipun demikian, semua itu masih dalam taraf konseptual, dalam arti pengkajian sudah melebar dan meluas mencakup aspek yang mempunyai kaitan erat antara gagasan dan peluang yang tersedia, tetapi belum cukup mendalam untuk dapat dipakai sebagai dasar mengambil keputusan akhir jadi tidaknya menanam investasi atau melaksanakan proyek.

Oleh karena itu, perlu diadakan pengkajian yang lebih mendalam agar dapat ditarik kesimpulan yang mantap. Sejalan dengan usaha tersebut, mulailah dirintis rencana kesiapan perangkat dan pelaksanaan proyek ataupun strategi penyelenggaraan.

Dengan demikian, kegiatan utama dalam tahap PP /Definisi adalah sebagai berikut :

  • Melanjutkan evaluasi hasil kegiatan tahap  konseptual, dalam arti lebih mendalam dan terinci, sehingga kesimpulannya cukup mantap untuk dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan perihal kelangsungan investasi atau proyek. 
  • Menyiapkan perangkat, seperti data, kriteria dan spesifikasi teknik, engineering dan komersial yang selanjutnya dipakai untuk membuat RFP, dokumen dan kontrak.
  • Menyusun perencanaan dan membuat keputusan strategis yang berkaitan dengan garis penyelenggaraan proyek, seperti macam kontrak yang akan dipakai, bobot sasaran pokok, filosofi desain, komposisi pendanaan.
  • Memilih peserta proyek yang terdiri dari tim proyek pemilik, kontraktor, konsultan, arsitek, dan lain-lain.
Ditinjau dari segi penyelenggaraan proyek secara keseluruhan dengan empat sasaran utama, yaitu lingkup, jadwal, biaya dan mutu, rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam tahap PP /Definisi ini (dalam hubungannya dengan persiapan memasuki tahap berikutnya) adalah usaha untuk menetapkan dan penjelaskan kedudukan keempat sasaran tersebut.

Artinya, dalam tahap PP / Definisi ditetapkan letak batas dan kriterianya. Dengan kata lain, tahap ini menentukan batasan berbagai parameter yang menyangkut sasaran, strategi untuk mencapainya dan sumber daya yang diperlukan.

Dengan demikian, diharapkan tidak terjadi kekaburan interpretasi sebelum proyek sampai ke tahap implementasi fisik. Akhir tahap definisi ditandai oleh kegiatan menyiapkan segala kelengkapan dokumen(kontrak, prosedur) yang berisi penjabaran rencana tindakan (action plan) yang mengikat organisasi peserta proyek (pemilik, kontraktor, konsultan) untuk melakukan tugas dan kewajibannya masing-masing dalam rangka mencapai sasaran proyek.

Deliverable Akhir Tahap PP/Definisi adalah sebagai berikut :

  • Dokumen berisi hasil analisis lanjutan kelayakan proyek.
  • Dokumen berisi rencana strategis dan operasional proyek.
  • Dokumen b erisi d efinisi lingkup, anggaran biaya (ABP), jadwal induk dan garis besar kriteria mutu proyek.
  • RFP atau paket lelang.
  • Dokumen hasil evaluasi proposal dari para peserta lelang.
Kegiatan menyiapkan "deliverable" pada penyelenggaraan proyek E-MK dengan jenis kontrak lump sum dilakukan oleh pihak pemilik proyek. Namun demikian, kegiatan tersebut sering pula dilakukan d engan menggunakan bantuan konsultan.

Tahap Implementasi

Komponen kegiatan utama pada tahap ini berbeda dari proyek ke proyek. Tetapi untuk proyek E-MK umumnya terdiri dari kegiatan desain-engineering terinci fasilitas yang hendak dibangun, desain-engineering produk, pengadaan material dan peralatan, manufaktur atau pabrikasi dan instalasi atau konstruksi.

Kegiatan desain-engineering terinci merupakan tindak lanjut jenis pekerjaan yang sama yang telah dirintis di tahap PP /Definisi. 

Tahap implementasi terdiri dari kegiatan sebagai berikut:

  • Mengkaji lingkup kerja proyek, kemudian membuat program implementasi dan mengkomunikasikan kepada peserta dan penanggung jawab proyek.
  • Melakukan pekerjaan desain-engineering terinci, pengadaan material dan peralatan, pabrikasi, instalasi atau konstruksi.
  • Melakukan perencanaan dan pengendalian aspek biaya, jadwal dan mutu. Kegiatan lain yang tidak kalah pentingnya ialah memobilisasi tenaga kerja, melatih dan melakukan supervisi.
Deliverable tahap ini adalah produk atau instalasi proyek yang telah selesai secara "mekanis". Dari segi "contractual" ini ditandai dengan penyerahan sertifikat mechanical completion dari pemilik proyek kepada organisasi pelaksana atau kontraktor.

Tahap Terminasi

Kegiatan utama pada tahap terminasi adalah sebagai berikut:

  • Mempersiapkan instalasi atau produk beroperasi, seperti uji coba start-up, dan performance test.
  • Penyelesaian administrasi dan keuangan proyek seperti asuransi dan klaim.
  • Seleksi dan kompilasi dokumen proyek untuk diserahkan kepada pemilik atau kepada induk perusahaan.
  • Melaksanakan demobilisasi dan reassignment personil.
Bila langkah di atas telah selesai maka disusun laporan penutupan proyek.

Deliverable Tahap Terminasi ini berupa :

  • Instalasi a tau produk yang siap pakai a tau siap beroperasi. Ini ditandai dengan diterbitkannya sertifikat " opera tional acceptance" oleh pemilik proyek untuk pelaksana atau kontraktor.
  • Dokumen pernyataan penyelesaian masalah asuransi, klaim dan jaminan (warranty).

Tahap Operasi atau Utilitas

Tahap operasi atau utilisasi atau aplikasi hasil proyek tidak termasuk dalam siklus proyek, tetapi sudah merupakan kegiatan operasional.

Kita mencantumkannya di sini hanya untuk memperjelas batas kegiatan yang bersangkutan; di mana kegiatan proyek berhenti dan organisasi operasi mulai bertanggung jawab atas operasi dan pemeliharaan instalasi atau produk hasil proyek.

Demikianlah pembahasan kali ini tentang Tahapan Siklus Proyek Menurut PMI, anda bisa membaca Tulisan Sebelumnya tentang Dinamika dalam Siklus Proyek. Sumber referensi tulisan ini yaitu dari Bukunya Manajemen Proyek Imam Soeharto anda bisa mendownloadnya dalam Blog Kampus Teknik sipil ini.

Jika anda menyukai Pembahasan ini, Maka Bisa IKUTI UPDATEN selanjutnya di Facebook


Terima Kasih

Baca Selengkapnya ....
Share on :

Dinamika dalam Siklus Proyek

Posted by taufick max Jumat, 06 Desember 2013 0 komentar

Dinamika dalam Siklus Proyek


Dinamika dalam Siklus Proyek- Telah disebutkan sebelumnya dalam Artikel Kompleksitas dan Macam-macam Proyek bahwa proyek berbeda-beda dalam hal kompleksitas, ukuran, dan sumber daya yang diperlukan. Meskipun demikian, setiap proyek memiliki pola tertentu yang merupakan ciri pokok yang melekat dan membedakannya dari kegiatan operasional rutin. Semakin besar dan kompleks suatu proyek, ciri tersebut makin terlihat. Ciri pokok ini dikenal sebagai dinamika kegiatan sepanjang siklus proyek (project life cycle).

Dalam siklus proyek, kegiatan-kegiatan berlangsung mulai dari titik awal, kemudian jenis dan intensitasnya meningkat sampai ke puncak (peak), turun, dan berakhir. Kegiatan-kegiatan tersebut memerlukan sumber daya yang berupa jam-orang (man-hour), dana, material atau peralatan. Bila dibuat grafik dengan sumber daya pada sumbu vertikal dan waktu pada sumbu hori ontal, maka akan terlihat siklus proyek sebagai gari lengkung dengan titik-titik awal, puncak, dan akhir, seperti yang terlihat pada Gambar di bawah ini.



Di samping turun naiknya intensitas kegiatan, teijadi pula perubahan dalam aspek lain, seperti kualifikasi tenaga yang diperlukan. Misalnya, pada awa1 proyek diperlukan ahli-ahli perencanaan dan engineering, sedangkan menjelang akhir proyek diperlukan lebih banyak tenaga inspektor di lapangan.

Berbeda dari kegiatan operasional rutin yang relatif stabil, kegiatan proyek bersifat dinamis, terus berubah-ubah. Untuk mencapai penggunaan sumber daya yang efisien, perlu diusahakan agar tidak teijadi gejolak-gejolak (jluktuasi) yang tajam. Dengan demikian, seluruh kegiatan dalam siklus proyek merupakan rangkaian yang berkesinambungan menuju sasaran yang telah ditentukan.

Perkembangan Dalam Siklus Proyek

Suatu sistem yang dinamis, seperti halnya proyek, memiliki tahap-tahap perkembangan. Pada masing-masing tahap terdapat kegiatan yang dominan dengan tujuan yang khusus atau spesifik. Sampai saat ini belum ada keseragaman pembagian tahap dalam siklus proyek, baik jumJah maupun terminologi yang dipakai. Ha! ini antara lain ka rena banyaknya macam, ukuran, dan kompleksitas proyek, serta latar belakang tujuan pembagian itu sendiri.

Pembagian Menurut UNIDO

Salah satu sistematika penahapan yang luas pemakaiannya adalah yang disusun oleh United Nation Industrial Development Organization (UNIDO). UNIDO membagi siklus proyek menjadi 2 tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap implementasi. Kegiatan pada kedua tahap itu diperinci menjadi sebagai berikut :


Tahap Persiapan

Identifikasi gagasan atau analisis pendahuluan.
  • Pengembangan ide menjadi konsepkonsep altenatif.
  • Formulasi lingkup proyek.
  • Evaluasi lanjutan dan keputusan untuk investasi.

Tahap Implementasi 

  • Penyiapan desain-engineering terinci, jadwal induk, dan anggaran
  • Pengadaan kontrak dan pernbelian.
  • Pengeijaan pabrikasi, konstruksi, uji coba, dan start-up.
Setelah proyek selesai kemudian dilanjutkan dengan operasi rutin dari instalasi yang baru selesai dibangun.

Pembagian Menurut MRDC

Mobil Research and Development Corporation (MRDC), suatu anak perusahaan Mobil Oil-Princeton USA yang bergerak dalam konsultansi bidang penelitian dan pengembangan termasuk pengelolaan proyek, menyusun sistematika siklus proyek menjadi tiga tahap. Ketiga tahap tersebut terdiri atas Frontend, Tahap 1 dan Tahap 2, dengan perincian sebagai berikut  :

Front And 

Tahap ini meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

  • Mengidentifikasi lingkup gagasan (ide) yang timbul.
  • Memikirkan alternatif-alternatif yang mungkin.
  • Memilih altematif dan merumuskannya menjadi lingkup kerja pendahuluan.
  • Membuat perkiraan biaya dan jadwal pendahuluan.
  • Menyiapkan angka anggaran biaya tahap berikutnya.

Tahap 1

Terdiri dari kegiatan-kegiatan :
  • Memperjelas definisi Iingkup kerja.
  • Menyusun anggaran proyek dan jadwal induk;
  • Menyiapkan dokurnen tender, rancangan kontrak, dan 
  • Memilih calon pelaksana (kontraktor) untuk pekerjaan Tahap 2.

Tahap 2

Kegiatan utamanya terdiri dari :
  • Membuat desain-engineering terinci.
  • Melakukan pembelian atau kontrak material dan jasa.
  • Manufaktur (pabrikasi) peralatan dan konstruksi.
  • Melakukan inspeksi, uji coba, dan startup.
Bila tahap-tahap di atas telah diselesaikan maka proyek telah dianggap selesai dan diserahkan kepada pemilik untuk dioperasikan.

Pembagian Menurut PMI

Salah satu sistematika penahapan yang disusun oleh PMI (Project Management Institute), yaitu suatu institusi yang mengembangkan manajemen proyek dan telah dikenal dan diakui secara luas terutama oleh mereka yang terkait dengan masalah proyek, terdiri dari tahap-tahap konseptual, perencanaan & pengembangan (PP /Definisi), implementasi, dan terminasi.

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa pembagian siklus proyek menjadi beberapa tahap pada umumnya didasarkan atas jenis kegiatan utama (dominan) yang berlangsung di dalam tahap yang bersangkutan.

Kegiatan utama ini tidak harus berhenti pada tahap yang bersangkutan, tetapi masih berkelanjutan di tahap berikutnya.

Jadi, ada jenis kegiatan yang sama dengan tahap terdahulu tetapi intensitasnya sudah jauh berbeda. dari sudut pengelolaan proyek, manfaat yang diperoleh dari adanya pembagian siklus proyek menjadi tahap tahap ini adalah memudahkan untuk mengidentifikasi dan mengikuti perubahan kegiatan, dan selanjutnya menyiapkan sumber daya dan usaha yang diperlukan untuk menanganinya.

Demikianlah Artikel tentang dinamika dalam Siklus Proyek, Anda bisa Membaca Artikel sebelumnya yaitu Kompleksitas dan Macam-macam Proyek. Pembahasan selanjutnya yaitu mengenai Tahapan Siklus Proyek Menurut PMI.

Mohon saran dan masukannya tentang Tulisan ini. sumber referensi diambil dari Buku Manajemen Proyek Imam Soeharto.

Jika anda suka Artikel ini. Mohon Like anda juga bisa IKUTI UPDETAN Artikel berikut melalui Facebook.


Terima Kasih




Baca Selengkapnya ....
Share on :

Kompleksitas dan Macam Macam Proyek

Posted by taufick max 0 komentar

Kompleksitas dan Macam Macam Proyek

Kompleksitas dan Macam Macam Proyek- Sampai pada saat ini belum ada kriteria yang telah dibakukan untuk dapat mengatakan besar kecilnya suatu proyek secara kuantitatif.

Salah satu sebab adalah banyaknya ragam proyek sehingga besarya ukuran proyek yang satu (misalnya, rumah tinggal), belum tentu sama dengan ukuran proyek yang lain (misalnya, bendungan serbaguna).

Kompleksitas Proyek

Kompleksitas proyek tergantung dari hal-hal sebagai berikut :
  • Jumlah Macam Kegiatan dalam Proyek
  • Macam dan Jumlah hubungan Kelompok ( Organisasi ) dalam Proyek
  • Macam dan jumlah hubungan antar Kegiatan (organisasi) di dalam proyek dengan pihak luar.
Kompleksitas tidak tergantung dari besar kecilnya ukuran suatu proyek. Proyek kecil dapat saja bersifat lebih kompleks daripada proyek besar.

Macam Macam proyek

Dilihat dari komponen kegiatan utamanya macam proyek dapat dikelompokkan sebagai berikut  

Proyek Engineering-Konstruksi 

Komponen kegiatan utama jenis proyek ini terdiri dari pengkajian kelayakan, desain engineering, pengadaan dan konstruksi. Contoh proyek -macam ini adalah pembangunan gedung, jembatan, pelabuhan, jalan raya, fasilitas industri.

Proyek Engineering-Manufaktur

Proyek ini dimaksudkan untuk menghasilkan produk baru. Jadi, produk tersebut adalah hasil usaha kegiatan proyek. Dengan kata lain, proyek manufaktur merupakan proses untuk menghasilkan produk baru. Kegiatan utamanya meliputi desain-engineering, pengembangan produk (product development), pengadaan, manufaktur, perakitan, uji coba fungsi dan operasi produk yang dihasilkan. Contoh untuk ini adalah pembuatan ketel uap, generator listrik, mesin pabrik, kendaraan. Bila kegiatan manufaktur dilakukan berulangulang, rutin, dan menghasilkan produk yang sama dengan terdahulu, maka kegiatan ini tidak lagi diklasifikasikan sebagai proyek.

Proyek Penelitian dan pengembangan

Proyek penelitian dan pengembangan (research and development) bertujuan melakukan penelitian dan pengembangan dalam rangka menghasilkan suatu produk tertentu. Dalam mengejar hasil akhir, proyek ini seringkali menempuh proses yang berubah-ubah, demikian pula dengan lingkup kerjanya. Agar tidak melebihi anggaran atau jadwal secara substansial maka perlu diberikan batasan yang ketat perihal masalah tersebut.

Proyck Pelayanan Manajemen 

Banyak Perusahaan memerlukan proyek semacam ini. Di antaranya:

  • Merancang sistem informasi manajemen, meliputi perangkat lunak ataupun perangkat keras.
  • Merancang program efisiensi dan penghematan.
  • Melakukan diversifikasi, penggabungan dan pengambilalihan.
Proyek tersebut tidak membuahkan hasil dalam bentuk fisik, tetapi laporan akhir.

Proyek Kapital 

Berbagai badan usaha atau pemerintah memiliki kriteria tertentu untuk proyek kapital. Hal ini berkaitan dengan penggunaan dana kapital (istilah akuntansi untuk investasi. Proyek kapital umumnya meliputi pembebasan tanah, penyiapan lahan, pembelian material dan peralatan (mesinmesin), manufaktur (pabrikasi) dan konstruksi pembangun fasilitas produksi.

Proyek Radio telekomunikasi

Proyek di atas dimaksudkan untuk membangun jaringan telekomunikasi yang dapat menjangkau area yang luas dengan biaya yang relatif tidak terlalu mahal. Komponen utama kegiatannya adalah:
  • Site survey, untuk menentukan titik-titik yang akan dihubungkan dengan lokasi "repeater". 
  • Penentuan "frequency band". 
  • Desain engineering sistem.
  • Manufaktur I pabrikasi peralatan telekomunikasi.
  • Transpor ke site.
  • Instalasi repeater dan peralatan.
Berbeda dengan proyek-proyek yang mendirikan instalasi industri yang terkonsentrasi di satu atau banyak lokasi, proyek radio telekomunikasi umumnya terdiri dari banyak lokasi dan terpencar di seantero wilayah yang berjauhan. Oleh karena itu, aspek logistik dan koordinasi seringkali harus mendapatkan perhatian utama.

Proyek Konservasi Bio-Diversity


Proyek ini berkaitan dengan usaha pelestarian lingkungan. Salah satu pendekatan yang terkenal ialah aplikasi sistem IPAS (Integrated Protected Area System ), yaitu menentukan daerah yang dilindungi atau "protected area", "zona buffer", dan "adjacent area". Aspek yang dijangkau sistern IPAS arnat luas,meliputi sosial, ekonomi, ekosistem, kependudukan, dan lain-lain. Komponen utama kegiatannya terdiri dari:
Menyusun dan melaksanakan program penyuluhan dan menyadarkan penduduk yang daerah pemukimannya akan terkena proyek ( tidak harus memindahkan mereka), bahwa proyek berusaha melestarikan lingkungan dan menaikkan taraf hidup mereka.
  • Mengadakan survei "biofisik" (biophysical) dan sosio-ekonomi.
  • Menentukan batas-batas "protected area", "zona buffer", dan "adjacent area" (zoning, delineation, dan demarkasi).
  • Membangun "zona buffer" dan "adjacent area" dengan cara penghijauan, "agro forestry", konservasi tanah, dan "community development" seperti pernbuatan jalan dan jembatan.
Dari kornponen kegiatan di atas, terlihat bahwa dalam jenis proyek tersebut tidak terlalu banyak Unsur-unsur kegiatan engineering, konstruksi atau manufaktur, tetapi sarat dengan pengkajian, penelitian dan survei. Oleh karena itu, implementasinya memerlukan jasa konsultan yang amat intensif.

Sebab Timubulnya Suatu Proyek

Awal timbulnya proyek dapat berasal dari beberapa sumber berikut ini:

Rencana Pemerintah

Misalnya, proyeknpembangunan prasarana, seperti jalan,jembatan, bendungan, saluran irigasi, pelabuhan,lapangan terbang. Tujuannya lebihndititikberatkan pada kepentingan umum dan masyarakat.

Permintaan Pasar

Hal ini terjadi bila suatu ketika pasar memerlukan kenaikan suatu macam produk dalam jumlah besar. Permintaan ini dipenuhi dengan jalan membangun sarana produksi baru.

Dari dalam Perusahan yang Bersangkutan

Hal ini dimulai dengan adanya desakan keperluan dan setelah dikaji dari segala aspek menghasilkan keputusan untuk merealisasikannya menjadi proyek. Misalnya proyek yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi kerja dan memperbaharui (modernisasi) perangkat dan sistem kerja lama agar lebih mampu bersaing.

Dari Kegiatan Penelitian dan Pengembangan

Dari kegiatan tersebut dihasilkan produk baru yang diperkirakan akan banyak manfaat dan peminatnya, sehingga mendorong dibangunnya fasilitas produksi. Misalnya, komoditi obat-obatan dan bahan kimia yang lain. Bagi proyek yang berukuran besar dan kompleks, karena umurnnya melibatkan sumber daya yang besar, prakarsa sering timbul dari pihak pemerintah, perusahaan swasta besar, atau multinasional.

Mungkin Itu saja Pembahasan tentang Kompleksitas dan Macam-macam Proyek. Pada Pembahasan selanjutnya Kita akan membahas tentang  dinamika Dalam suklus Proyek.

Sumber referensi Pembahasan kita ini berasal Dari Buku Manajemen Proyek Imam Soeharto untuk mempelajari dengan jelasnya anda bisa membaca Bukunya.

Buku Imam soeharto Bisa anda dapatkan di Toko-toko buku, atau bisa mendownloadnya dalam Blog ini.
Jika Suka Artikel Ini. IKUTI UPDATEan Artikel Selanjutnya Di Facebook 

Terima Kasih


Baca Selengkapnya ....
Share on :

Perilaku dan Dinamika Proyek Konstruksi

Posted by taufick max Kamis, 05 Desember 2013 0 komentar

Perilaku dan Dinamika Proyek

Perilaku dan Dinamika Proyek Konstruksi- Sejak dahulu telah dikenal adanya proyek. Wujud dan skalanya dapatberaneka ragam, mulai dari rumah huniannsederhana sampai dengan candi-candi raksasa.Semakin maju peradaban manusia semakin besar dan kompleks proyek yang dikerjakan dengan melibatkan penggunaan bahan-bahan, tenaga kerja, dan teknologi yang makin terampil dan canggih. 
Akan tetapi, mengapa kegiatan tersebut disebut proyek? Bagaimana halnya dengan kegiatan petani di ladang atau nelayan di laut yang terus-menerus dikerjakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya?

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menjadi topik pembahasan pada kesempatan ini,yakni batasan dan penjelasan kegiatan yang berbentuk proyek. Pembahasan dimulai dengan merumuskan definisi dan membedakannya dengan kegiatan operasional rutin, menyinggung kriteria ukuran besar kecil dan kompleksitas suatu proyek. Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan menganalisis dinamika yang melekat pada kegiatan tersebut. Bagian akhir mengetengahkan berbagai tahap serta perilaku yang spesifik selama proyek berlangsung.


Perilaku Kegiatan Proyek

Kegiatan proyek dapat diartikan sebagai satu kegiatan sementara yang berlangsung dalam jangka waktu terbatas, dengan alokasi sumber daya tertentu dan dimaksudkan untuk menghasilkan produk atau deliverable yang kriteria mutunya telah digariskan dengan jelas. Lingkup (scope) tugas tersebut dapat berupa pembangunan pabrik, pembuatan produk baru atau pelaksanaan penelitian dan pengembangan.

Dari pengertian di atas maka ciri pokok proyek adalah sebagai berikut:
  • Bertujuan Menghasilkan Lingkup Tertentu beupa produk atau hasil akhir tetentu
  • Dalam proses mewujudkcm lingkup di atas, Ditentukan Jumlah Biaya, Jadwal, serta Mutu
  • Bersaat sementara, dalam arti umurnya dibatasi oleh selesainya tugas, titik awal dan akhir ditentukan dengan jelas
  • Nonrutin, tidak berulang-ulang. Macam dan intensitas kegiatan berubah sepanjang Proyk berlangsung
Di samping proyek, dikenal pula program yang mempunyai sifat sama dengan proyek. Perbedaannya terletak pada kurun waktu pelaksanaan dan besarya sumber daya yang diperlukan. Program memiliki skala lebih besar daripada proyek. Umumnya, program dapat dipecah menjadi lebih dari satu proyek. Dengan kata lain, suatu program merupakan kumpulan dari bermacam-macam proyek.


Sasaran Proyek dan Tiga Kendala ( Triple Comstrain )

Selain berbentuk bangunan di atas telah disebutkan bahwa tiap proyek memiliki tujuan khusus, misalnya membangun rumah tinggal, jembatan, atau instalasi pabrik. Dapat pula berupa produk hasil kerja penelitian dan pengembangan. 

Di dalam proses mencapai tujuan tersebut, ada batasan yang harus dipenuhi yaitu besar biaya (anggaran) yang dialokasikan, jadwal, serta mutu yang harus dipenuhi. Ketiga hal tersebut merupakan parameter penting bagi penyelenggara proyek yang sering diasosiasikan sebagai sasaran proyek.

Anggaran Proyek

Proyek harus diselesaikan dengan biaya yang tidak melebihi anggaran. Untuk proyek-proyek yang melibatkan dana dalam jumlah besar dan jadwal pengerjaan bertahun-tahun, anggarannya tidak hanya ditentukan secara total proyek, tetapi dipecah atas komponen-komponennya atau per periode tertentu (misalnya, per kuartal) yang jumlahnya disesuaikan dengan keperluan. Dengan demikian, penyelesaian bagian-bagian proyek pun harus memenuhi sasaran anggaran per periode.

Jadwal  Proyek

Proyek harus dikerjakan sesuai dengan kurun waktu dan tanggal akhir yang telah ditentukan. Bila hasil akhir adalah produk baru, maka penyerahannya tidak boleh melewati batas waktu yang ditentukan.

Mutu Proyek

Produk atau hasil kegiatan proyek harus memenuhi spesifikasi dan kriteria yang dipersyaratkan. Sebagai contoh, bila hasil kegiatan proyek tersebut berupa instalasi pabrik, maka kriteria yang harus dipenuhi adalah pabrik harus mampu beroperasi secara memuaskan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Jadi, memenuhi persyaratan mutu berarti mampu memenuhi tugas yang dimaksudkan atau sering disebut sebagai fit for the intended use.

Ketiga batasan tersebut bersifat tarik-menarik. Artinya, jika ingin meningkatkan kinerja produk yang telah disepakati dalam kontrak, maka umumnya harus diikuti dengan meningkatkan mutu. Hal ini selanjutnya berakibat pada naiknya biaya sehingga melebihi anggaran. Sebaliknya, bila ingin menekan biaya, maka biasanya harus berkompromi dengan mutu atau jadwal. 

Dari segi teknis, ukuran keberhasilan proyek dikaitkan dengan sejauh mana ketiga sasaran tersebut dapat dipenuhi. Pada perkembangan selanjutnya ditambahkan parameter lingkup sehingga parameter di atas menjadi lingkup, biaya, jadwal dan mutu.


Baca Selengkapnya ....
Share on :

Sistem Manajemen Integrasi Proyek

Posted by taufick max Sabtu, 30 November 2013 0 komentar

Sistem Manajemen Integrasi Proyek

Manajemen Integrasi Proyek, Integrasi Proyek Konstruksi

 

Pengetahuan Tentang Manajemen Integrasi Proyek merupakan salah satu Pengetahuan yang wajib diketahui oleh Ahli manajemen Proyek.Karena hal tersebut berhubungan dengan Prinsip kerja dalam Proyek.

Seperti yang dikemukakan pada pembahasan kita sebelumnya tentang Definisi dan Prinsip Penting Manajemen Proyek. salah satu prinsipnya yaitu Pelaksanaan Tugas hendaknya berorientasi pada Totalitas.Hal ini diupayakan dengan mengadakan kordinasi dan Integrasi pengelolaan sub-sistem yang bersangkutan.

Maksud Integrasi dan Kordinasi

Dalam Konteks ini yang dimaksud dengan integrasi dan koordinasi adalah proses yang bertujuan agar komponen-komponen kegiatan proyek (sub-sistem, Bagian kegiatan personil, dan lain-lain) dapat berfungsi sebagai kesatuan yang utuh atau terpadu untuk mencapat tujuan sistem proyek secara efektif dan efisien.

Dalam hubungan ini, menarik untuk memperhatikan hasil penelitian Peter Moris yang menunjukan bahwa fungsi integrasi dan kordinasi diperlukan bila dijumpai keadaan sebagai berikut :
  • Sasaran dan tujuan organisasi memerlukan kelompok-kelompok yang berbeda untuk bekerja sama secara erat.
  • Bekerja dengan lingkungan yang berubah dengan cepat.
  • Pekerjaan bersifat Interrelated dan interconnected
  • Teknologi dan metode yang digunkana bermacam-macam.
  • Struktur organisasi kompleks dan sering mengalami perubahan.

Keadaan yang digambarkan diatas dapat dijumpai hampir di setiap proyek terutama pada proyek-royek besar. Proses Integrasi dan Kordinasi ( I dan K ) selama siklus proyek dapat dibedakan menjadi Internal dan eksternal.

Proses I dan K Internal : Berkaitan dengan interaksi komponen kegiatan proyek itu sendiri, Misalnya hasil kegiatan tahap Konseptual berupa studi kelayakan akan menjadi masukan utama tahap berikutnya yaitu tahap Perencanaan dan Pengembangan (PP)/Defenisi. Interaksi tersebut umumnya berlangsung secara intensif dan seringkali memerlukan "trade-off" di antara komponen kegiatan yang bersangkutan

Proses integrasi dan koordinasi ekstenal ditandai oleh kenyataan bahwa proyek melibatkan banyak peserta di dalam (antar bidang)organisasi perusahaan yang bersangkutan, dan dengan pihak luar (subkontraktor, rekanan, pernerintah dan lain-lain) satu dengan yang lain rnempunyai hubungan dan keterkaitan tertentu yang harus berfungsi sebagai kesatuan yang utuh. 
 
Agar proyek dapat mencapai sasaran dengan efektif dan efisien, diperlukan langkah koordinasi dan integrasi secara tepat dan ketat. Bila tidak, maka dikhawatirkan mereka akan bergerak sendiri-sendiri dan ini berakibat negatif terhadap pencapaian sasaran.
 


Proses lntegrasi

Proses integrasi tidak berjalan dengan sendirinya tetapi harus direncanakan, didorong dan dilakukan tindakan khusus oleh pengelola proyek. Berikut adalah tindakan-tindakan yang diperlukan agar proses integrasi  efektif:
  • Menciptakan suasana yang mendukung proses integrasi.
  • Menjalin proses perencanaan => implementasi perencanaan => pengendalian secara ketat dalam berbagai aspek kegiatan dan peserta.
  • Mengelola konflik secara tepat.
  • Memelihara komunikasi yang aktif dengan stake holder.

Menciptakan Suasana yang Mendukung 

Suasana yang mendukung (conducive) perlu diciptakan agar perusahaan yang bersangkutan siap menerima dan mendukung aktivitas yang diperlukan proyek. Penciptaan suasana yang mendukung ini terdiri dari serangkaian tindakan, antara lain:
  • Mengidentifikasi para peserta/pelaksana dan penjelasan tentang adanya proyek serta garis besar rencana pengelolaannya.
  • Mengidentifikasi bidang fungsional dan manajer yang akan berperan.
  • Menunjuk pimpro sebagai penanggung jawab proyek.
  • Menerbitkan project charter yang menjelaskan batas-batas otoritas pimpro dengan manajer fungsional.
  • Mengidentifikasi keperluan sumber daya yang diperlukan proyek seperti keuangan, peralatan, personil, dan lain-lain.
  • Menyiapkan prosedur koordinasi proyek, yang menjelaskan tata cara kerja sama antara para peserta atau pelaku inti (pemilik, kontraktor, konsultan, vendor,penyandang dana, dan lain-lain).
Langkah awal di atas dilakukan oleh pimpinan perusahaan sebelum implementasi fisik dimulai.

Menjalin Perencanaan dan Pengedalian

Secara Ketat Salah satu cara yang efektif agar terbentuk integrasi antara berbagai komponen kegiatan proyek adalah mengusahakan terjalinnya perencanaan dan pengendalian dalam bentuk siklus perencanaan => implementasi (pelaksanaan dari perencanaan) => pengendalian => koreksi. 
 
Hal ini terjadi karena aspek perencanaan dan pengendalian secara berurutan diperlukan untuk pengelolaan baik oleh komponen kegiatan proyek (yang relatif mandiri) maupun kegiatan proyek yang dikerjakan oleh berbagai peserta atau pelaku. Dengan adanya proses perencanaan-implementasi pengendalian-koreksi di atas yang menjangkau proyek secara keseluruhan,komponen kegiatan yang kelihatannya terpecah-pecah itu diharapkan dapat menjadi kesatuan yang terpadu.

Mengelola Konflik Secara Tepat

Konflik akan selalu terjadi bila dua individu atau kelompok mengadakan kerja sama. Konflik yang tidak berlebihan dan dikelola dengan baik akan berdampak positif; sebaliknya konflik yang berlebihan dan tidak dikelola dengan baik akan dapat merugikan penyelenggaraan proyek. Mengelola konflik dalam proyek berarti mengelola individu atau kelompok yang harus bekerja sama dalam waktu relatif pendek, dengan sasaran yang sekaligus sama dan berbeda. Dalam keadaan demikian, pimpro diharapkan memiliki antisipasi yang tajam dan menguasai cara (konsep) menghadapinya.

Salah satu yang sering menjadi sebab timbulnya konflik adalah penentuan prioritas alokasi sumber daya (tenaga ahli, peralatan, dana, dan lain-lain), terutama bagi perusahaan yang menangani multiproyek. Dalam hal demikian, pimpinan perusahaan, misalnya Kepala Divisi Proyek, perlu mengikut-sertakan para pimpro dan stafnya dalam menyusun perencanaan alokasi sumber daya yang sedang dan akan dilaksanakan.

Memelihara Komunikasi dengan StakeHolder

Salah satu sarana integrasi yang penting adalah memelihara komunikasi dengan stakeholder proyek, terutama mereka yang langsung berurusan sehari-hari dengan proyek seperti tim proyek pemilik, kontraktor, subkontraktor, rekanan, manufacturer, dan lain-lain. 
 
Umumnya pimpro harus menyediakan sebagian besar waktunya guna mengurusi komunikasi, seperti mengadakan rapat operasional proyek,menyusun dan me-review laporan, prosedur dan kebijakan, klasifikasi petunjuk dari atasan dan pendapat dari stake holder yang lain, serta di atas menjadi prasyarat terbentuknya integrasi baik yang bersifat internal maupun eksternal.

Lebih jauh, adanya komunikasi terbuka akan dapat meminimalkan terjadinya hal-hal yang berakibat negatif terhadap usaha integral seperti perbedaan persepsi, antagonisme antara pelaku atau organisasi dan sikap melawan perubahan (resistance to change).

Spesialisasi dan lntegrasi

Dari sudut lain perlunya fungsi integrasi dikemukakan oleh Lawrence dan Lorch bahwa, dengan majunya perkembangan ilmu dan teknologi dan semakin kompleksnya sistem yang dikelola, diperlukan spesialisasi yang semakin mendalam. Dengan sendirinya timbul keperluan akan koordinasi dan integrasi agar para spesialis tidak terpisahkan dan terbenam dalam "keasyikan" di bidangnya masing-masing. 
 
Dalam pengelolaan proyek yang efektif dituntut terciptanya keseimbangan antara kedua keperluan tersebut. Karena bidang fungsional (pendukung proyek) dianggap berorientasi ke spesialisasi, maka tugas pimpro adalah melakukan koordinasi dan integrasi agar dicapai keseimbangan yang diinginkan.


Interface Management

Dalam usaha memahami lebih jauh fungsi integrasi pada pengelolaan proyek, R. D. Achibald (1979) mencoba menghubungkannya dengan apa yang dikenal sebagai interface management yang didefinisi.kan sebagai berikut:

"Interface management adalah merencanakan dan mengendalikan interaksi antara berbagai unsur kegiatan dan organisasi para peserta atau stake holder pada waktu dan area tertentu".

Lebih lanjut dijelaskan bahwa interface management terdiri dari identifikasi, dokumentasi, penyusunan jadwal, komunikasi dan pengendalian interface unsur kegiatan dan organisasi peserta proyek. Dengan demikian, terlihat bahwa suatu interface management yang efektif merupakan syarat penting terciptanya proses integrasi.

Contoh Interface Management

Contoh yang jelas suatu interface management adalah yang berlangsung di zona ketika terjadi interaksi antara proyek dan organisasi peserta yang bersangkutan, yang dikenal sebagai daerah antarfase (organizational interface) .

Jenis Interface

Di samping pembagian menjadi statis dan dinamis, interface dapat pula digolongkan menjadi personil, organisasi, dan sistem.

lnterface Personil

Dalam proyek terdapat individu atau kelompok yang harus bekerja sama antara satu dengan yang lain. Hal ini selalu menimbulkan potensi untuk timbulnya persoalan karena kepentingan yang sekaligus mengandung unsur kesamaan dan perbedaan.

Interface Organisasi

Setiap unit organisasi pelaku proyek, disamping memiliki tujuan bersama, juga mempunyai tujuan sendiri. Misalnya, di samping ingin mensukseskan pelaksanaan proyek, kontraktor juga ingin mendapatkan laba.Pengelolaan interface jenis ini cukup sulit, karena para organisasi pelaku umumnya telah merumuskan tujuannya secara konkret dan memegang teguh tujuan tersebut. Contoh interface organisasi dapat dilihat dalam Gambar

lnterface Sistem

Interface sistem adalah interface yang berkaitan dengan sistem nonhuman, seperti perangkat keras, fasilitas, instalasi produk dan lain-lain yang sedang dikerjakan dalam suatu proyek.

Ini dapat terdiri dari in terface fisik yang terdapat pada komponen-komponen yang saling berhubungan (interconnecting part). Interface dengan Stake Holder Secara umum yang dimaksud dengan stake holder proyek adalah individu, kelompok atau organisasi yang :
  • Aktif ikut serta dalam kegiatan proyek.
  • Dalam jangka pendek atau panjang akan terkena dampak positif atau negatif dari adanya proyek.
  • Memiliki kepentingan hasil proyek.

Tim pengelolaan proyek harus mengidentifikasi para stakeholder untuk mengetahui apa yang mereka harapkan, meskipun hal ini tidak mudah dilakukan karena banyaknya stake holder serta beranekaragamnya kepentingan yang dimiliki. Beberapa stakeholder yang penting adalah sebagai berikut:

  • Pimpro dan tim inti proyek, yaitu individu dan kelompok yang bertanggung jawab atas pengelolaan proyek.
  • Pelanggan atau pemilik, yaitu pihak yang akan memakai atau memiliki produk hasil proyek.
  • Sponsor, yaitu pihak yang bertindak sebagai penyandang dana.
  • Pelaksana, yaitu perusahaan yang mengerjakan kegiatan proyek, misalnya kontraktor, subkontraktor, dan konsultan.
  • Organisasi atau pihak lain seperti pemerintah atau badan berwenang yang keputusannya dapat mempengaruhi proyek.
  • Pemerhati lingkungan, yaitu individu atau kelompok yang akan terkena dampak proyek dalam arti positif maupun negatif

Pada Pembahasan ini dipakai istilah peserta proyek yang meliputi beberapa anggota stake holder yang langsung ikut aktif menangani penyelenggaraan proyek seperti pimpro, tim inti proyek pemilik, kontraktor, bidang fungsional yang bersangkutan, dan konsultan. Interface management amat penting artinya terutama dalam rangka mengintegrasikan kegiatan proyek yang dilakukan oleh bagian organisasi para peserta.

lnterface dengan Pemilik Proyek

Bagi pelaksana (peserta) seperti perusahaan kontraktor, interface dengan pemilik harus didasari pemikiran bahwa segala upaya (hendaknya) diusahakan untuk memenuhi keinginan pelanggan (cus tomer) . Dalam konteks ini pemilik adalah pelanggan. Pemilik mempunyai pengaruh dan peranan besar terhadap keberhasilan proses pengelolaan proyek. 
 
Seringkali dukungan kerja sama dari pemilik tergantung pada intensitas peranan dan parhsipasinya pada tahap perencanaan dan implementasi. Pada masa tersebut pelaksana harus banyak melakukan konsultasi dengan pemilik dan membicarakan serta membahas berbagai masalah yang berkaitan dengan program implementasi. Di antaranya yang terpenting adalah sebagai berikut :
  • Konfirmasi lingkup kerja proyek termasuk jadwal, biaya, dan mutu.
  • Organisasi proyek dan pengisian personil inti.
  • Prosedur kerja dan koordinasi.
  • Prosedur keuangan dan pembayaran.
  • Komunikasi, termasuk frekuensi dan jenis laporan.
  • Inspeksi dan testing.

Keikutsertaan dan persetujuannya mengenai masalah tersebut di atas akan mendorong tumbuhnya dukungan dan komitmen dari pemilik yang pada akhimya mempermudah proses pengelolaan implementasi proyek

Interface dengan Berbagai Bidang dan Pimpinan Intenal Perusahan

Interface antara pimpro dengan berbagai bidang dan pimpinan internal perusahaan dapat dikelompokkan sebagai berikut :
  • Dengan pimpinan, yaitu kepala divisi koordinasi pelaksana proyek-proyek (korpel).
  • Dengan kepala atau manajer berbagai bidang fungsional (engineering, pengadaan, personalia, hukum, dan lain-lain).
  • Dengan anggota atau kelompok dalam tim inti proyek. Pimpinan memegang peranan penting yang meliputi:
  • Meletakkan dasar tujuan dan sasaran proyek sesuai dengan kepentingan perusahaan secara keseluruhan.
  • Menentukan prioritas alokasi sumber daya untuk perusahaan yang sedang menangani multiproyek.
  • Memecahkan konflik yang mungkin timbul bilamana pimpro atau para pimpro belum dapat menyelesaikannya
  • Merencanakan pengembangan karir personil proyek.
Sedangkan pimpro berkewajiban melaporkan kemajuan proyek dan kendala-kendala yang dihadapinya Interface dengan berbagai bidang fungsional merupakan salah satu tugas yang paling sulit karena pimpro tidak memiliki otoritas memerintah", sedangkan banyak sekali faktor keberhasilan proyek tergantung dari pekerjaan yang diserahkan kepada bidang-bidang tersebut. Di lain pihak, bidang-bidang fungsional seringkali mempunyai alasan yang wajar seperti berikut ini :
  • Banyaknya beban pekerjaan yang sedang dihadapi sedangkan sumber daya yang dimiliki amat terbatas.
  • adwal penyelesaian yang diajukan tidak realistis.
  • Semua (pekerjaan) proyek minta diprioritaskan.
  • Munculnya hal-hal yang tidak terduga, seperti berhentinya personil atau tenaga ahli.
Untuk menghadapi keadaan di atas, pimpro hendaknya mempunyai cadangan kontinjensi untuk mengatasi ketidaktentuan tersebut (misalnya, memakai konsultan dari luar) dan tidak berharap selalu mendapatkan tenaga ahli terbaik. Interface antara pimpro dengan anggota atau kelompok dalam tim inti umumnya tidak terlalu sulit karena mereka dimasukkan (dipindahkan) ke dalam susunan staf pimpro.
Jadi, pimpro memiliki jalur (line) otoritas terhadap mereka meskipun waktunya (periodenya) terbatas selama mereka masih diperlukan proyek. Faktor yang perlu diperhatikan pimpro dalam hal terakhir ini adalah agar diusahakan mendapatkan anggota staf inti yang betul-betul berkualitas dan siap pakai, karena tidak ada waktu lagi untuk mengadakan pelatihan.

Interface dengan Pemerintah dan Masyarakat

Telah disebutkan bahwa integrasi dan koordinasi dengan pihak luar (ekstemal) di antaranya adalah yang berkaitan dengan pemerintah dan kelompok masyarakat yang berkepentingan dengan proyek. Seperti halnya dengan para stake holder yang lain perlu diperhatikan pengelolaan interface dengan pihak-pihak tersebut, yaitu melakukan identifikasi dan analisis peranan serta aspek yang dapat dipengaruhi. Intensitas interface golongan ini umunmya tergantung pada sejumlah faktor seperti ukuran proyek, perilaku masyarakat, peraturan pemerintah, dan lain-lain.

Tingkat Manajerial Organisasi

Pelaksana Tugas dan tanggung jawab pimpro dan tim inti proyek dalam hubungannya dengan manajemen interface akan lebih mudah dirumuskan bila disadari bahwa dalam organisasi pelaksana (misalnya, kontraktor) umumnya terdapat lapisan manajerial (management level)yang masing-masing mempunyai fungsi berbeda, yang dapat digambarkan sebagai berikut:

Tingkat I: Manajemen Senior

Manajemen senior mempunyai tugas berurusan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan dunia luar proyek, yaitu menghubungkan (interface) masalah proyek dengan masyarakat yang lebih luas seperti pernerintah, pemilik, serta kelompok-kelompok kepentingan dalam masyarakat dan kemudian mengambil keputusan yang bersangkutan dengannya.

Tingkat II : Manajemen Madya

Manajemen madya berfungsi mengadakan koordinasi berbagai kegiatan proyek serta menjabarkan keputusan-keputusan strategis pimpinan perusahaan rnenjadi perencana operasional. Umumnya posisi pimpro termasuk dalam lapisan tingkat 11 meskipun tidak secara absolut karena kenyataan menunjukkan bahwa dalam kapasitas yang terbatas pimpro harus pula berurusan dengan pihak luar.

Tingkat III: Manajemen Teknis

Manajemen teknis berurusan dengan masalah teknis (technical I tactical matters), terutama melaksanakan kegiatan operasional proyek seperti engineering, konstruksi atau manufaktur, sampai manjadi paket deliverable. Memahami adanya tingkat manajerial pada organisasi pelaksana amat penting artinya  dalam manajemen interface, dalam arti siapa atau  lapisan manakah yang harus bertanggung jawab dan aktif melaksanakannya.

Mungkin itu saja pembahasan kita tentang Sistem Manajemen Integrasi Proyek, Pada Kesempatan berikut itu akan membahas tentang "Sistem Manajemen Lingkup Proyek" sebagai kelanjutan dari Integrasi.

Semoga Artikel ini bisa bermanfaat buat kita semua. Jika ada kesalahan dalam penulisan ini, mohon komentar dan kritikannya sehingga Tulisan dalam blog sederhana ini bisa lebih bermutu lagi.

Salam civil Engineering.



Baca Selengkapnya ....
Share on :

Definisi dan Prinsip Dasar Manajemen Proyek

Posted by taufick max Jumat, 29 November 2013 0 komentar

Definisi dan Prinsip Dasar Manajemen Proyek

Prinsip Penting Manajemen Proyek, Fungsi Manajemen Konstruksi

Definisi dan Prinsip Dasar Manajemen Proyek-Pada Kesempatan ini Kita akan Mempelajari tentang Prinsip dasar yang ada Dalam Manajemen Proyek. Namun sebelum kita bahas tentang Manajemen Proyek sebaiknya kita Definisikan Dulu Apa Sih Sebenarnya Manajemen itu ?

Definisi Manajemen

secara Umum Manajemen adalah Proses Merencanakan, mengorganisir,memimpin ( Menggerakan dan mengendalikan kegiatan anggota serta sumber daya yang lain untuk mencapai sasaran organisasi yang telah di tentukan.

Fungsi Manajemen secara umum kita mengenalnya dengan Istilah POAC yang dalam bahasa inggrisnya yaitu PLANING, ORGANIZING,ACTUATIANG, dan CONTROLING. Maksud dari Ke empat istilah tersebut yakni :

PLANING atau Perencanaan

Apa sih yang harus direncanakan ? Yang harus direncanakan disini yaitu hal-hal yang berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai dengan cara Memilih dan Menentukan Langkah-langkah kegiatan akan datang yang diperlukan untuk mencapai sasran.

ORGANIZING atau Organisasi

Manajemen Organisasi disini yaitu untuk mengatur dan mengalokasikan kegiatan serta sumber daya kepada para peserta kelompok (Organisasi) agar dapat mencapai sasaran secara efisien

ACTUATING  atau Memimpin/Menggerakan/Pelaksanaan

Mengerakan disini yaitu Mengarahkan dan memperngaruhi Sumber Daya manusia dalam organisasi agar mau bekerja dengan sukarela untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

CONTROLING atau Mengendalikan

Pengendalian disini yaitu Memantau, Mengkaji, dan Bila Perlu Mengadakan Koreksi agar hasil kegiatan sesuai dengan yang telah ditntukan

Itulah sekilas tentang Defenisi dan Fungsi Manajemen secara umum. sementara yang dibahas disini yaitu tentang Manajemen Proyek, yang tentu saja memiliki defenisi yang lebih mendetail karena hanya berhubungan dengan Proyek. lantas apa yang di Maksud dengan Manajemen Proyek ?

Menurut Bukunya Imam Soerharto "Manajemen Proyek : Dari Konseptual sampai Operasional" Mengatakan bahwa ada 4 unsur Pemikiran yang tergabung dalam Manajemen Proyek, sehingga Jika ingin Mempelajari Manajemen Proyek maka ke 4 Keilmuan tersebut harus dipelajari. 

Empat keilmuan dalam Manajemen Proyek tersebut yakni :

Manajemen Klasik atau Manajemen Berdasarkan Fungsi 

Yaitu Ilmu Manajemen secara Umum dengan Fungsi POAC seperti yang telah dibahas diatas yaitu Merencanakan, mengorganisir, memimpin, dan mengendalikan

Pendekatan Sistem atau Manajemen Yang Berorientasi pada Totalitas.

Metodologinya yang erat berhubungan dengan penyelenggaraan proyek adalah Sistem analisis, sistem engineering, dan sistem manajemen

Pendekatan berdasarkan contingency atau manajemen sesuai situasi 

Yaitu pada intinya berpendapat bahwa tidak ada satupun pendekatan manajemen terbaik yang dapat dipakai untuk mengelolah setiap macam kegiatan. atau dapat dikatakan teknik pengelolaan yang bekerja baik untuk suatu kegiatan tertentu tidak menjamin keberhasilan yang sama bagi kegiatan yang lain. karena situasinya dapat berubah setiap waktu, oleh karenanya maka pengelolaan harus pula bersifat flexible.

Disipilin Ilmu Lain

Dalam Manajemen Proyek juga mempelajari tentang Disiplin Ilmu lain seperti Arsitek, Engineering, Ilmu Sosial, Ilmu Ekonomi, dan lain sebagainya.

Itulah Ke empat Unsur yang harus dipelajari atau yang membentuk Manajemen Proyek. Dengan demikian maka Defenisi dari Manajemen Proyekpun akan berbeda atau lebih spesifik dari Manajemen secara Umum.

Bentuk Organisasi Proyek, Fungsi Organisasi Proyek, Syarat Organisasi Proyek

Defenisi Manajemen Proyek

Dalam Bukunya Ir.Abrar Husen, MT "Manajemen Proyek : Perencanaan, Penjadwalan, dan Pengendalian Proyek" Mendefiniskan :

Manajemen Proyek adalah Suatu Ilmu Pengetahuan tentang seni memimpin organisasi yang terdiri atas kegiatan Perencanaan,Pengorganisasian,pelaksanaan dan pengendalian terhadap sumber-sumber daya yang terbatas dalam usaha mencapai tujuan dan sasaran yang efektif dan efisien.

Sementara menurut H. KERZNER dalam Bukunya "Project Management for Executives '82 mendefinisikan :

Manajemen Proyek adalah Merencanakan,mengorganisir,memimpin/menggerakan, dan mengendalikan sumber daya perusahan untuk mencapai sasaran jangka pendek yang telah ditentukan. Lebih jauh Manajemen proyek menggunakan pendekatan sistem dan hierarki (arus Kegiatan) vertikal dan horizontal.

Tujuan Manajemen Proyek

Dari beberapa definisi diatas mengarahkan pada satu Tujuan yaitu Mendapatkan Metode atau cara teknis yang paling baik agar dengan sumber daya yang terbatas diperoleh hasil maksimal dalam hal Ketepatan,kecepatan,penghematan dan keselamatan kerja secara komprehensif.

Unsur-unsur Terpenting Manajemen Proyek

Dari pembahasan diaatas maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Ada beberapa Unsur penting yang ada dalam manajemen proyek, yaitu :

Tujuan : Sasaran yang hendak dicapai dalam optimasi biaya,mutu,waktu, dan keselamatan kerja.
Pemimpin : Mengarahkan organisasi dalam mencapai sasaran dan tujuan.
Sumber Daya : Manusia,Modal/Biaya, Peralatan, dan Material
Kegiatan : Perencanaan, Pengorganisasian,Pelaksanaan, dan Pengendalian

Penerapan Fungsi Manajemen Proyek (POAC)


Perencanaan Proyek

Pada aspek Perencanaan ini sama seperti Manajemen Klasik yaitu mengikuti Hierarki Perencanaan ( sasaran-Objektif-Strategi-Operasional) yang membedakan yaitu Pada tahap Operasional, karena didalam Manajemen Proyek Perlu didukung oleh suatu metode Perencanaan yang dapat menyusun secara cermat urutan pelaksanaan kegiatan ataupun penggunaan sumber daya bagi kegiatan-kegiatan tersebut agar proyek dapat diselesaikan secepatnya dengan penggunaan sumber daya sehemat mungkin.

Metode yang digunakan dalam Perencanaan Manajemen Proyek yaitu :
- Analisis jaringan Kerja, Seperti Metode Jalur Kritis (CPM), Teknik Pengkajian dan Telaah Proyek (PERT), dan Metode Preseden Diagram (PDM).
- Metode Penyusunan Perkiraan Biaya Proyek, dilakukan dengan bertahap sesuai dengan keperluan dan informasi yang tersedia pada waktu yang bersangkutan, yang dikenal dengan Perkiraan Biaya Pendahuluan, Perkiraan Biaya Proyek, dan Perkiraan Biaya Definitif

Pengorganisasian dalam Proyek

Pada kegiatan ini dilakukan identifikasi dan pengelompokan jenis-jenis pekerjaan, menentukan pendelegasian wewenang dan tanggung jawab personel serta meletakkan dasar bagi hubungan masing-masing unsur organisasi. Untuk menggerakkan organisasi, pimpinan harus mampu mengarahkan organisasi dan menjalin komunikasi antar pribadi dalam hierarki organisasi. Semua itu dibangkitkan melalui ranggung jawab dan partisipassi semua pihak.

Struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan proyek dan kerangka penjabaran tugas personel penanggungjawab yang jelas, sefta kemampuanpersonel yang sesuai keahliannya, akan diperoleh hasil positif bagi organisasi.

Metode yang digunakan yaitu Work Breakdown Structure (WBS) atau SRK (struktur Rincian Lingkup Kerja)

Pelaksanaan Proyek

Kegiatan ini adalah implementasi dari perencanaan yang telah ditetapkan, dengan melakukan tahapan pekerjaan yang sesungguhnya secara fisik atau nonfisik sehingga produk akhir sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan.Karena kondisi perencanaan sifatnya masih ramalan dan subyektif serta masih perlu penyempurnaan, dalam tahapan ini sering terjadi perubahan perubahan dari rencana yang telah ditetapkan.

Biasanya, pada tahapan pelaksanaan, pihak-pihak yang terlibat lebih beragam. Oleh karena itu,dibutuhkan koordinasi terpadu untuk mencapai keserasian dan keseimbangan kerja. Pada tahapan ini juga telah ditetapkan konsep pelaksanaan serta personel yang terlibat pada organisasinya,kemudian secara detail  menetapkan jadwal, program, alokasi biaya, serta alokasi sumber daya yang digunakan.

Digunakan gaya kepemimpinan yang mengarah ke partisipasi, dan dengan pengembangan Expert power dan referent power untuk menambah otoritas resmi Pimpinan Proyek

Pengendalian Proyek

Kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa program dan aturan kerja yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan penyimpangan paling minimal dan hasil paling memuaskan.

Untuk itu dilakukan bentuk-bentuk kegiatan seperti berikut: 
Supervisi: Melakukan serangkaianbtindakan koordinasi pengawasan dalam batas wewenang dan tanggung jawab menurut prosedur organisasi yang telah ditetapkan, agar dalam operasional dapat dilakukan
secara bersama-sama oleh semua personel dengan kendali Pengawas.

Inspeksi: Melakukan pemeriksaan terhadap hasil pekerjaan dengan tujuan menjamin spesifikasi mutu dan produk sesuai dengan yang direncanakan.

Tindakan Koreksi: Melakukan perubahan dan perbaikan terhadap rencana yang telah ditetapkan untuk menyesuaikan dengan kondisi pelaksanaan.

Proses dalam manajemen sifatnya umum dan dapat digunakan dalam berbagai kegiatan/bidang yang membutuhkan pengelolaan yang sistematis, terarah serta mempunyai sasaran dan tujuan yang jelas. Macam dan bidang yang menggunakan ilmu manajemen adalah manajemen pemerintahan,manajemen industri, manajemen perusahaan, manajemen sumber daya,manajemen proyek, dan lain sebagainya. untuk manajemen proyek biasanya kurun waktu dibatasi oleh program-program yang sifatnya sementara dan berakhir bila sasaran dan tujuan organisasi proyek sudah tercapai. Bila membuat proyek sejenis pada waktu sesudahnya, biasanya sasaran dan tujuannya lebih inovatif dengan memodifikasi program-program sebelumnya.

Untuk sementara Pembahasan tentang Definisi dan Prinsip Dasar Manajemen Proyek dibatasi sampai disini dulu, Pembahasan Detai lainnya dapat dibaca pada Artikel-artikel lain yang berhubungan dengan Prinsip Manajemen Proyek diatas.

Semoga Bisa membantu Kita semua dalam Memahami Ruang Lingkup seputar Ilmu Manajemen Proyek. Mohon Komentarnya dan tanggapannya demi kesempurnaan pengetahuan kita tentang Manajemen Proyek Konstruksi.

Sekian. Terima kasih.

Baca Selengkapnya ....
Share on :

Materi Populer