Koleksi Contoh Skripsi Teknik Sipil

Posted by taufick max Jumat, 07 Maret 2014 2 komentar

Koleksi Contoh Skripsi Teknik Sipil

Koleksi Skripsi Teknik Sipil Lengkap

Koleksi Contoh Skripsi Teknik Sipil- Salam Civil Enggineer. Terima kasih atas kesetiannnya dalam berkunjung ke situs Kampus Teknik Sipil Ini Semoga kita bisa terus belajar bersama untuk mengembangkan Ilmu Teknik Sipil Kita.

Pada kesempatan ini saya akan kembali dalam pembahasan Tentang Contoh Skripsi Teknik. Namun disini kita tidak akan membahas tentang Bagaimana membuat Judul Skripsi dan lain sebagainya.

Saat ini saya hanya menginformasikan kepada teman-teman yang kesulitan mencari Contoh Skripsi Teknik sipil bagi yang mau melakukan penelitian tentang ketekniksipilan.

Melakukan penelitian bagi Mahasiswa S1 terkhususnya Jurusan Teknik Sipil merupakan suatu kewajjiban sebelum meraih gelar sebagai Sarjana Teknik. Dan penelitian yang dilakukan juga merupakan sebagai Bukti kelayakannya sebagai seorang Sarjana.

Namun terkadang untuk melakukan Penelitian yang kemudian laporan tersebut di susun yang kita kenal dengan nama Skripsi tersebut terbilang gampang-gampang susah.

Penyusunan Skripsi Bisa dibilang gampang jika kita sudah memahami Metodologi penelitian yang akan di gunakan. Namun akan terasa susah jika kita tidak paham tentang Metode penelitian yang ilmiah yang harus digunakan.

Saya tidak akan berbicara panjang lebar terkait dengan Cara Penyusunan Skripsi disini. karena kita sudah banyak membahasnya di pertemuan sebelumnya di Situs ini.

Informasi yang mau saya sampaikan adalah Jika anda membutuhkan Contoh Skripsi Teknik Sipil untuk referensi atau gambaran anda melakukan Penelitian.

Maka Informasi menariknya yaitu anda bisa PESAN KOLEKSI SKRIPSI TEKNIK SIPIL itu disini. karena Kampus Teknik Sipil memiliki kurang lebih 150 Judul Skripsi Secara lengkap dari Mulai Bab 1 sampai Penutup.

Contoh Teknik Sipil Lengkap



Koleksi Skripsi Teknik Sipil tersebut dalam bentuk File Pdf, dan Ms word yang sudah dibuatkan dalam 2 Kepiangan DVD yang terdiri dari :
  1. Lebih dari 150 Judul Skripsi Teknik Sipil Lengkap
  2. Lebih dari 500 Ebook Teknik Sipil
  3. Software-software Pendukung lainnya.
Untuk Mendapatkan Paket DVD Koleksi Skripsi Teknik Sipil.
 Biayanya Rp. 149,000 ( Sudah Termasuk Ongkos Kirim )

Cara Pemesanannya :


Ketik :

#Pesan Skripsi Teknik Sipil# Nama # Alamat #
KIRIM SMS Ke Nomor ===>  021- 28 8080 27 atau 0852 4076 4122

Contoh :

#Pesan Skripsi Teknik Sipil# Iklam Djamal# Jl. Koepal Bacan No 212, Halmahera#

Kirim ke ==> 021-28808027 atau 0852 4076 4122



Selanjutnya Jika PAKET DVD SKRIPSI TEKNIK SIPILnya masih ada maka anda akan mendapatkan balasan selanjutnya untuk melakukan Transaksi Biaya Pengiriman.

Semoga Bermanfaat.


Baca Selengkapnya ....
Share on :

Alasan Pemilihan Konstruksi Baja

Posted by taufick max Senin, 03 Maret 2014 1 komentar

Alasan Pemilihan Material Konstruksi Baja

Konstruksi Baja, Fungsi Baja, Kelebihan Baja, Konstruksi Baja murah
Salam Civil Engineers. Pada pembahasan kali ini kita akan membahas tentang Alasan Kenapa Konstruksi Baja banyak digunakan dalam Pembangunan Proyek saat ini. Tentu saja selain baja banyak Material yang bisa kita gunakan sebagai Material Struktur Konstruksi Baja. Namun kenapa harus memilih Baja. ? Mari kita bahas secara sistematis alasannya.

Pengertian Baja

Sebelum kita membahas tentang Konstruksi baja, maka hal yang paling mendasar yang pelu kita ketahui yaitu apa sih yang di maksud dengan Baja itu ? Menurut Wikipedia Baja merupakan material logam paduan, dengan unsur Dasarnya adalah logam besi yang di campur dengan Elemen lainnya seperti Karbon dan lain sebagainya.

Fungsi Baja

Berbicara tentang Fungsi baja maka semua tergantung dari perencanaan dan apa yang mau kita manfaatkan yang bisa menggunakan Baja sebagai materialnya. Fungsi baja tidak jauh berbeda dengan Fungsi Logam secara keseluruhan Seperti Tembaga, alumunium, Besi, dan lain sebagainya.

Dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan Baja digunakan dalam banyak hal, salam satunya yaitu sebagai Struktur Konstruksi sebuah Bangunan. Penggunaan Baja sebagai Struktur Bangunan biasanya kita sebut sebagai Konstruksi Baja.

Struktur Baja

Struktur baja yang kita maksudkan disini yaitu Bukan sebagai Struktur atau elemen-elemen yang menyusun baja, namun lebih mengarah pada Manfaat Baja sebagai Struktur suatu bangunan.

Baja sebagai Struktur dalam suatu bangunan, bisa dimanfaatkan sebagai Kolom atau Ring balknya. Komposisi atau Ukuran dan jenis baja yang digunakan sebagai Kolom atau Ring Balk tergantung pada Perhitungan Struktur yang mengarah pada Kebutuhan kekuatan atau beban yang dipikul oleh struktur atas dan kekuatan gaya Horizontalnya.

Metode perhitungan Baja memiliki standar perhitungan tersendiri, dimana di Indonesia Perhitungan Baja Mengacu pada Standar Nasional Indonesia atau SNI 03- 1729-2002. Bagaimana Rumus dan cara Penghitung Kekuatan Struktur Baja. Bisa di Baca pada Materi yang lain tentang Cara Menghitung Struktur Baja.

Pembuatan Baja

Pembuatan Material Baja dilakukan dengan cara proses peleburan Bijih besi dengan mengurangi kandungan karbon tertentu sesuai dengan yang diinginkan dan kemudian elemen-elemen lainnya di tambahkan kedalam hasil logam yang telah memuai tersebut.

Setelah kompoisis pembentukan Baja telah disatukan atau dipadukan maka cairannya dituangkan dengan metode tertentu secara berkelanjutan hingga membentuk Lempengan-lempengan Baja.

Pembuatan Konstruksi Baja

Konstruksi Baja 2

Kelebihan Baja sebagai Struktur

Kelebihan baja ini dimaksud jika baja dibandingkan dengan Material Struktur yang lain, misalnya Beton, Kayu dan lainnya. Dengan Demikian baja memiliki kelebihan :
  • Kuat tariknya Tinggi
  • Tidak dimakan Rayap jika dibandingkan dengan Kayu
  • Memiliki Nilai Muai dan Susut yang sangat kecil
  • Penggunaannya bisa di Daur Ulang
  • Baja lebih murah jik dibandingkan dengan Stainless Steel
  • Baja Lebih ringan dan lebih Lentur jika dibandingkan dengan Beton
  • Baja Lebih kuat jika dibandingkan dengan Aluminium
Kelebihan Baja tersebut diatas merupakan Alasan kenapa Konstruksi Baja banyak digunakan dalam Proyek pembuatan sebuah bangunan.

Demikialah yang bisa kita bahas pada kesempatan ini tentang Konstruksi Baja. Anda Bisa Mengikut Updetan Informasi lainnya tentang Konstruksi Baja disini yang akan di bahas secara Detail. Silahkan Klik Ikuti untuk mengikuti info lanjutan.

KLIK IKUTI





Baca Selengkapnya ....
Share on :

Aspek Penting dalam Manajemen Proyek

Posted by taufick max Sabtu, 01 Maret 2014 0 komentar

Aspek-aspek Penting dalam Manajemen Proyek

Aspek Penting dalam Manajemen Proyek,

Terima kasih teman-teman Civil Engineers yang selalui Mengikuti Updetan Materi dari Kampus Sipil ini. Sebelumnya kita telah membahas tentang Definisi dan Ruang Lingkup Manajemen Proyek, dan pada kesempatan ini kita akan membahas tentang Aspek-Aspek penting dalam Manajemen proyek.

Dalam manajemen proyek, yang perlu dipertimbangkan agar output Proyek sesuai dengan sasaran dan tujuan yang direncanakan adalah mengidentifikasi berbagai masalah yang mungkin timbul ketika proyek dilaksanakan.

Beberapa aspek yang dapat diidentifikasi dan menjadi masalah dalam manajemen Proyek serta membutuhkan penanganan yang cermat, adalah sebagai berikut :

Aspek Keuangan

Masalah ini berkaitan dengan pembelanjaan dan pembiayaan proyek. Biasanya berasal dari modal sendiri dan/atau pinjaman dari bank atau investor dalam jangka pendek atau jangka panjang.

Pembiayaan proyek menjadi sangat krusial bila proyek berskala besar dengan tingkat kompleksitas yang rumit, yang membutuhkan analisis keuangan yang cermat dan terencana.

Aspek Anggaran Biaya

Masalah ini berkaitan dengan perencanaan dan pengendalian biaya selama proyek berlangsung. Perencanaan yang matang dan terperinci akan memudahkan proses pengendalian biaya, sehingga biaya yang dikeluarkan sesuai dengan anggaran yang direncanakan. Jika sebaliknya,akan terjadi peningkatan biaya yang besar dan merugikan bila proses Perencanaannya salah.

Aspek Manajemen Sumber Daya Manusia: 

Masalah ini berkaitan dengan kebutuhan dan alokasi SDM selama proyek berlangsung yang berfluktuatif. Agar tidak menimbulkan masalah yang kompleks, perencanaan SDM didasarkan atas organisasi proyek yang dibentuk sebelumnya dengan melakukan langkah-langkah, Proses staffing SDM, deskripsi kerja, perhitungan beban kerja, deskripsi wewenang dan tanggung jawab SDM serta penjelasan tentang sasaran dan tujuan proyek.

Aspek Manajemen Produksi:

Masalah ini berkaitan dengan hasil akhir dari proyek; hasil akhir proyek negatif bila proses perencanaan dan pengendaliannya tidak baik. Agar hal ini tidak terjadi, maka dilakukan berbagai usaha untuk meningkatkan produktivitas SDM, meningkatkan efisiensi proses produksi dan kerja, meningkatkan kualitas produksi melalui jaminan mutu dan pengendalian mutu.

Aspek Harga:

Masalah ini timbul karena kondisi eksternal dalam hal persaingan harga yang dapat merugikan perusahaan karena produk yang dihasilkan membutuhkan biaya produksi yang tinggi dan kalah bersaing dengan produk lain.

Aspek Efektivitas dan Efisiensi:

Masalah ini dapat merugikan bila fungsi produk yang dihasilkan tidak terpenuhi/tidak efektif atau dapat juga terjadi bila faktor efisiensi tidak dipenuhi, sehingga usaha produksi membutuhkan biaya yang besar.

Aspek Pemasaran:

Masalah ini timbul berkaitan dengan perkembangan faktor eksternal sehubungan dengan persaingan harga, strategi promosi, mutu produk serta analisis pasar yang salah terhadap produksi yang dihasilkan.

Aspek Mutu:

Masalah ini berkaitan dengan kualitas produk akhir yang nantinya dapat meningkatkan daya saing serta memberikan kepuasan bagi pelanggan.

Aspek Waktu:

Masalah waktu dapat menimbulkan kerugian biaya bila terlambat dari yang direncanakan serta akan menguntungkan bila dapat dipercepat.


Demikianlah Materi tentang Aspek-Aspek penting dalam Manajemen Proyek. semoga bermanfat, Jika anda menyukai Materi ini anda bisa mengikuti Updetan materi selanjutnya melalui Facebook yang akan dibahas tentang Karakteristik dan Siklus Proyek.

KLIK IKUTI



Baca Selengkapnya ....
Share on :

Definisi & Ruang Lingkup Manajemen Proyek

Posted by taufick max 0 komentar

Definisi dan Ruang Lingkup Manajemen Proyek

Ruang Lingkup Manajemen Proyek

Dalam Blog Kampus-sipil ini kita sudah sering membahas tentang Manajemen Proyek dan Juga definisi serta Ruang lingkupnya. Namun pada kesempatan ini saya merasa perlu untuk menjelaskan kembali secara mendetail, agar bisa lebih dipahami. Karena pendefinisian secara baik tentang Manajemen Proyek ini, bisa berpengaruh pada apa yang kita lakukan dan sistematika dari mempelajari Ilmu Manajemen Proyek.

Kemajuan dalam kegiatan industri pada beberapa aspek memerlukan manajemen atau pengelolaan yang dituntut memiliki kinerja, kecermatan, keekonomisan, keterpaduan, kecepatan, ketepatan, ketelitian serta keamanan yang tinggi dalam rangka memperoleh hasil akhir yang sesuai harapan.

Pengelolaan suatu kegiatan dengan investasi berskala besar dan tingkat kompleksitas yang sangat sulit membutuhkan cara teknis/metode yang teruji, sumber daya yang berkualitas, serta Penerapan ilmu pengetahuan yang tepat dan up to date.

Manajemen sebagai ilmu mengelola suatu kegiatan yang skalanya dapat bersifat kecil atau bahkan sangat besar, mempunyai ukuran tersendiri terhadap hasil akhir. Dengan menerapkan prinsip-prinsip dasar manajemen yang sama oleh individu atau organisasi yang berbeda, hasil akhir proses manajemen dapat berbeda satu sama lain.

Ini karena ada perbedaan- perbedaan budaya, pengalaman,lingkungan, kondisi sosial,tingkat ekonomi, karakter sumber daya manusia serta kemampuan untuk menguasai pirinsip-prinsip dasar manajemen

Perkembangan ilmu pengetahuan tentang manajemen berjalan beriringan dengan perkembangan praktis yang terjadi sehari-hari dalam laju kemajuan implementasi prinsip-prinsip manajemen pada masyarakat.

Pengalaman selama proses implementasi memberikan suatu data primer yang berguna untuk mengembangkan teori-teori manajemen agar menjadi lebih luas dan mempunyai nilai tambah, sehingga dapat menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dan memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu manajemen baik secara teoretis maupun praktis.

Untuk memberikan gambaran tentang manajemen, selanjutnya diuraikan definisi dan Ruang Lingkup Manajemen Proyek.

Definisi Manajemen Proyek

Suatu ilmu pengetahuan tentang seni memimpin organisasi yang terdiri atas kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian terhadap sumber-sumber daya yang terbatas dalam usaha mencapai tujuan dan sasaran yang efektif dan efisien.

Tujuan Manajemen Proyek
Mendapatkan metode atau cara teknis yang paling baik agar dengan sumber-sumber daya yang terbatas diperoleh hasil maksimal dalam hal ketepatan, kecepatan, penghematan dan keselamatan kerja secara komprehensif.

Unsur-unsur Manajemen Proyek

Tujuan: sasaran yang hendak dicapai dalam optimasi biaya, mutu, waktu dan keselamatan.
Pemimpin mengarahkan organisasi dalam mencapai sasaran dan tujuan.
Sumber-sumber daya yang terbatas: manusia,modal/biaya, peralatan dan material
Kegiatan : Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan, dan Pengendalian.

Perencanaan (Planning)

Pada kegiatan ini dilakukan antisipasi tugas dan kondisi yang ada dengan menetapkan sasaran dan tujuan yang harus dicapai serta menentukan kebijakan pelaksanaan, program yang akan dilakukan, jadwal waktu pelaksanaan, prosedur pelaksanaan secara administratif dan operasional serta alokasi anggaran biaya dan sumber daya.

Perencanaan harus dibuat dengan cermat, lengkap, terpadu dan dengan tingkat kesalahan paling minimal. Namun hasil dari perencanaan bukanlah dokumen yang bebas dari koreksi karena sebagai acuan bagi tahapan pelaksanaan dan pengendalian, perencanaan harus terus disempurnakan secara iteratif untuk menyesuaikan dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi pada proses selanjutnya.

Pengorganisasian (Organizing)

Pada kegiatan ini dilakukan identifikasi dan pengelompokan jenis-jenis pekerjaan, menentukan pendelegasian wewenang dan tanggung jawab personel serta meletakkan dasar bagi hubungan masing-masing unsur organisasi.

Untuk menggerakkan organisasi, pimpinan harus mampu mengarahkan organisasi dan menjalin komunikasi antar pribadi dalam hierarki organisasi. Semua itu dibangkitkan melalui tanggung jawab dan partisipasi semua pihak.Stuktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan proyek dan kerangka penjabaran tugas personel penanggungjawab yang jelas, sefta kemampuan personel yang sesuai keahliannya, akan diperoleh hasil positif bagi organisasi.

Pelaksanaan (Actuating)

Kegiatan ini adalah implementasi dari perencanaan yang telah ditetapkan, dengan melakukan tahapan pekerjaan yang sesungguhnya secara fisik atau nonfisik sehingga produk akhir sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan.

Karena kondisi perencanaan sifatnya masih ramalan dan subyektif serta masih perlu penyempurnaan, dalam tahapan ini sering terjadi perubahan-perubahan dari rencana yang telah ditetapkan.

Biasanya, pada tahapan pelaksanaan, pihak-pihak yang terlibat lebih beragam. Oleh karena itu, dibutuhkan koordinasi terpadu untuk mencapai keserasian dan keseimbangan kerja. Pada tahapan ini juga telah ditetapkan konsep pelaksanaan serta personel yang terlibat pada organisasinya, kemudian secara detail menetapkan jadwal, program, alokasi biaya, serta alokasi sumber daya yang digunakan.

Pengendalian (Controlling)

Kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa program dan aturan kerja yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan penyimpangan paling minimal dan hasil paling memuaskan.Untuk itu dilakukan  bentuk-bentuk kegiatan seperti berikut :

Supervisi : melakukan serangkaian tindakan koordinasi pengawasan dalam batas wewenang dan tanggung jawab menurut prosedur organisasi yang telah ditetapkan, agar dalam operasional dapat dilakukan secara bersama-sama oleh semua personel dengan kendali Pengawas.

Inspeksi : melakukan pemeriksaan terhadap hasil pekerjaan dengan tujuan menjamin spesifikasi mutu dan produk sesuai dengan yang direncanakan.

Tindakan Koreksi : melakukan perubahan dan perbaikan terhadap rencana yang telah ditetapkan untuk menyesuaikan dengan kondisi pelaksanaan.

Proses dalam manajemen sifatnya umum dan dapat digunakan dalam berbagai kegiatan/bidang yang membutuhkan pengelolaan yang sistematis, terarah serta mempunyai sasaran dan tujuan yang jelas.

Macam dan bidang yang menggunakan ilmu manajemen adalah manajemen pemerintahan, manajemen industri, manajemen perusahaan, manajemen sumber daya,manajemen proyek, dan lain sebagainya. Untuk manajemen proyek biasanya kurun waktu dibatasi oleh program-program yang sifatnya sementara dan berakhir bila sasaran dan tujuan organisasi proyek sudah tercapai.

Bila membuat proyek sejenis pada waktu sesudahnya biasanya sasaran dan tujuannya lebih inovatif dengan memodifikasi program-program sebelumnya.

Proyek :
Gabungan dari sumber-sumber daya seperti manusia, material, peralatan dan modal/biaya yang dihimpun dalam suatu wadah organisasi sementara untuk mencapai sasaran dan tujuan.

Dari semua uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Manajemen Proyek adalah penerapan ilmu pengetahuan, keahlian dan keterampilan,'cara teknis yang terbaik dan dengan sumber daya yang terbatas, untuk mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditentukan agar mendapatkan hasil yang optimal dalam hal kinerja biaya, mutu dan waktu, serta keselarnatan kerja.

Proses manajemen proyek

Dari Gambar diatas dapat diuraikan bahwa proses manajemen proyek dimulai dari kegiatan perencanaan hingga pengendalian yang didasarkan atas input-input seperti tujuan dan sasaran proyek, informasi dan data yang digunakan, serta penggunaan sumber daya yang benar dan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.

Dalam proses sesungguhnya, pemimpin dengan wewenang yang ada dalam organisasi proyek mengelola dan mengarahkan segala perangkat dan sumber daya yang ada dengan kondisi terbatas, tetapi berusaha memperoleh pencapaian paling maksimal sesuai dengan standar kinerja proyek dalam hal biaya, mutu, waktu dan keselamatan kerja yang telah ditetapkan sebelumnya.

Untuk mendapatkan produk akhir yang maksimal, segala macam kegiatan pada proses manajemen proyek direncanakan dengan detail dan akurat untuk mengurangi penyimpangan-penyimpangan, Dan bila ada tindakan koreksi dalam Proses selanjutnya,diusahakan koreksi tersebut tidak terlalu banyak.


Demikianlah Materi Definisi dan Ruang Lingkup Manajemen Proyek ini, semoga bermanfaat. Bagi anda yang menyukai Materi ini, Bisa Ikuti Updetan Materi selanjutnya yaitu tentang Aspek-aspek Penting dalam Manajemen Proyek melalui Facebook.


KLIK IKUTI.





Baca Selengkapnya ....
Share on :

Perencanaan Keterbatasan Sumber Daya Proyek

Posted by taufick max Rabu, 12 Februari 2014 1 komentar

Perencanaan Keterbatasan Sumber Daya Proyek

Perencanaan Sumber daya Proyek

Untuk Merencanakan Jadwal Proyek yang ekonomis dan murah seperti yang kita bahas sebelumnya. Maka Perencanaan Sumber Daya  perlu maksimalkan dan diperhatikan, Karena waktu atau Jadwal proyek sangat tergantung pada pemenfaatan dan pengendalian Sumber daya yang digunakan dalam proyek.  baik Sumber Daya Manusia, Peralatan, maupun Material. Olehnya itu pada kesempatan ini kita akan membahas lebih lanjut tentang Perencanaan Keterbatasan Sumber Daya dalam Proyek.

Perencanaan Sumber Daya dalam Proyek sangat menentukan Efektifitas dan kesuksesan sebuah proyek, baik dari segi Waktu, Biaya, maupun Kualitas atau Mutu. olehnya pada pada kesempatan ini melalui Kampus Teknik Sipil ini kita akan membahas tentang cara memaksimalkan Sumber Daya dalam sebuah Perencanaan Proyek.

Untuk menunjukkan sejauh mana Pengaruh Keterbatasan Jumlah Sumber Daya terhadap Jadwal, maka pada Gambar dibawah ini diberikan sebuah contoh jaringan kerja dari suatu proyek yang memiliki jumlah sumber daya terbatas.

Contoh proyek dengan keterbatasan sumber daya

Dengan memakai perhitungan maju-mundur dihasilkan :

  • Jalur kritis : a - b - f - h
  • Waktu penyelesaian proyek: 20 hari
  • Float total c : 10 hari
  • Float total d - e - g: 3 hari

Jika digambarkan dengan bagan balok berskala waktu, akan tampak seperti Gambar dibawah ini :

Jaringan kerja yang disajikan dengan bagan balok


Keterbatasan sumber daya tersebut ditunjukkan pada gambar diatas. dan Gambar dibawah ini dengan keadaan sebagai berikut :

Pengaruh keterbatasan sumber daya terhadap float

  • Pekerjaan c memerlukan sumber daya yang sama (misalnya, tukang kayu) dengan pekerjaan b, sedangkan sumber daya ini terbatas, sehingga c harus digeser sebagian float totalnya terpakai dari 10 tinggal 3 hari.
  • Pekerjaan g memerlukan sumber daya yang sama dengan f, padahal ini terbatas, sehingga g harus digeser, sebagian float totalnya terpakai dari 3 menjadi 2 hari.
Dengan demikian, kegiatan-kegiatan yang berada di jalur d - e - g float totalnya juga tinggal 2 hari.

Sumber daya manusia Manajemen Proyek


Dari contoh di atas dapat ditarik kesimpulan secara umum sebagai berikut :
  • Keterbatasan sumber daya akan mengurangi jumlah float.
  • Kemungkinan akan terbentuk kegiatan kritis baru, di samping yang telah ada sebelumnya (sewaktu memakai dasar sumber daya tak terbatas).
  • Di samping tergantung pada hubunganhubungan antarkegiatan, float juga tergantung kepada keterbatasan sumber daya.
Dari ilustrasi singkat di atas, dapat dipikirkan bahwa keterbatasan yang terlalu besar dapat menimbulkan kesulitan pemakaian kaidahkaidah yang mendasari penggunaan jaringan kerja.

Misalnya, jalur kritis bukan terletak di jalur yang terpanjang seperti pengertian yang dipegang selama ini, tetapi mungkin di jalur yang memiliki keterbatasan sumber daya yang terparah.

Meratakan Penunaan Sumber Daya

Aspek lain yang perlu diperhatikan dalam hubungan antara jadwal dan sumber daya adalah usaha pemakaian secara efisien. Di sini yang akan ditinjau adalah sumber daya yang berbentuk tenaga kerja.

Tenaga kerja merupakan salah satu sumber daya yang penting, seringkali penyediaannya terbatas, baik karena faktor kualitas ataupun hal-hal lain. Merekrut, menyeleksi, dan melatih tenaga kerja memerlukan biaya mahal dan membutuhkan waktu lama sebelum mereka siap pakai.

Setelah mereka bergabung dengan proyek, tidak mudah untuk melepas dan memanggil kembali untuk bekerja sesuai dengan fluktuasi pekerjaan yang tersedia.

Sedangkan menahan mereka untuk stand-by akan menelan biaya yang dipandang tidak efisien. Oleh karena itu, diusahakan jangan sampai terjadi fluktuasi keperluan secara tajam. Metode CPM dapat membantu mengatasi masalah tersebut, yang dikenal sebagai pemerataan sumber daya atau resource leveling.

Manajemen Sumber Daya manusia dalam Proyek

Penyajian Grafis

Pemerataan sumber daya dengan CPM dapat dikerjakan dengan cara grafis. Pertama-tama membuat koordinat y dan x, pada y dicantumkan sumber daya, misalnya tenaga kerja, sedangkan sumbu y menunjukkan kurun waktu.

Dicari Jalur Kritis dan Float Jaringan Kerja dari proyek yang diteliti, kemudian komponen-komponen kegiatan proyek digambarkan pada koordinat yang telah disiapkan.

Komponen kegiatan nonkritis diatur dengan menggeser-geser (sebatas float yang tersedia) dan mengusahakan untuk tidak terj adi fluktuasi yang tajam.

Ilustrasi

Suatu proyek terdiri dari tujuh pekerjaan yang tersusun menjadi jaringan kerja seperti pada Gambar dibawah ini.

Proyek terdiri dari 7 pekerjaan

Setiap komponen pekerjaan memerlukan sumber daya yang berbentuk tenaga kerja sebagai berikut  :

  • Kegiatan a sebanyak 20 orang selama 6 hari.
  • Kegiatan b sebanyak 15 orang selama 3 hari.
  • Kegiatan c sebanyak 15 orang selama 3 hari.
  • Kegiatan d sebanyak 10 orang selama 3 hari.
  •  Kegiatan e sebanyak 15 orang selama 3 hari.
  • Kegiatan f sebanyak 35 orang selama 3 hari.
  • Kegiatan g sebanyak 5 orang selama 3 hari.
Jaringan kerja itu digambarkan dengan skala waktu dan memakai ES (Early Start) untuk tiap kegiatan, sehingga akan diperoleh seperti Gambar dibawah ini.

Jaringan kerja berskala waktu untuk proyek

Selanjutnya, disusun koordinat x, y, dengan x menunjukkan waktu dan y menunjukkan jumlah tenaga kerja. Bila komponen pekerjaan dipaparkan pada koordinat tersebut akan terlihat seperti Gambar bawah.

Pekerjaan disusun dengan muatan tenaga kerja

Agar diingat hendaknya pekerjaan kritis (a, f, g) dipaparkan terlebih dahulu. Hasil pemaparan pertama menunjukkan terjadinya keadaan naik turun yang tajam (setelah hari ke-3 terjadi penurunan sejumlah 20 dari total 50 tenaga kerja atau 40 persen yang berlangsung 3 hari kemudian, naik lagi sebesar 40 persen).

Hal ini diperbaiki dengan menggeser kegiatan-kegiatan b, d, dan e yang dimungkinkan karena memiliki float-float sebesar di daftar tersebut. Dengan demikian, keperluan tenaga kerja lebih merata dan tidak terjadi fluktuasi secara tajam.

Susunan pekerjaan setelah diadakan pemerataan

Ilustrasi tersebut adalah contoh sederhana, di mana pada kenyataan sesungguhnya cukup sulit untuk melakukan pemerataan kegiatan proyek dengan ribuan kegiatan dan tenaga kerja yang heterogen. Namun, dengan penggunaan perangkat lunak atau komputer, kesulitan tersebut banyak teratasi.

Demikianlah Materi sekilas tentang Perencanaan Sumber Daya Proyek. Semoga bisa bermanfaat, Jika anda menyukai Materi ini anda bisa ikuti Updetannya melalui Facebook. mteri berikut yaitu berhubungan dengan Struktur Organisasi Proyek.

KLIK IKUTI






Baca Selengkapnya ....
Share on :

Perencanaan Jadwal Proyek yang Murah

Posted by taufick max Selasa, 04 Februari 2014 0 komentar

Perencanaan Jadwal Proyek yang Murah Ekonomis

perencanaan proyek biaya murah, Manajemen Proyek Konstruksi
Kita ketahui Bersama bahwa faktor-faktor kesuksesan suatu proyek diantaranya adalah Waktu pelaksanaan yang cepat dan Biaya yang ekonomis. Untuk memperjelas hubungan antara Waktu dan Biaya maka pada kesempatan ini kita akan membahas tentang materi Perencanaan Jadwal Proyek yang Murah Ekonomis. 

Sebelumnya telah dibahas Jalur Kritis  dalam suatu Jaringan Kerja yang menunjukkan waktu paling cepat Penyelesaian Proyek dan float yang Mengidentifikasi Jalur Kritis atau kapan suatu kegiatan paling lambat boleh dimulai, tanpa mengganggu jadwal proyek secara keseluruhan.

Dengan diketahuinya kurun Waktu Penyelenggaraan Proyek, seringkali timbul pertanyaan apakah kurun waktu tersebut sudah optimal, atau dengan kalimat lain, dapatkah kurun waktu penyelesaian proyek dipersingkat dengan Menambah Biaya atau Sumber Daya lain dalam batas-batas yang masih dianggap ekonomis.

Sementara itu, sampai sejauh ini dalam Menyusun Jaringan Kerja, digunakan asumsi bahwa sumber daya yang diperlukan selalu tersedia, dalam arti analisis dan perhitungan belum memasukkan faktor kemungkinan keterbatasan sumber daya. Akibatnya, jadwal yang dihasilkan atas dasar asumsi demikian tidak akan realistik bila kenyataannya sumber daya yang tersedia terbatas.

Oleh karena itu, sebelum menjadi jadwal yang siap pakai sebagai pegangan praktek pelaksanaan, hendaknya diperhatikan juga faktor ketersediaan sumber daya.

Hal lain yang perlu diperhitungkan dalam penggunaan tenaga kerja dan peralatan adalah usaha menghindari terjadinya fluktuasi yang tajam, dengan jalan mengadakan pemerataan pemakaian sumber daya.

Dalam pembahasan kita kali ini akan ditinjau sejauh mana faktor-faktor tersebut di atas mempengaruhi jadwal atau perencanaan proyek, beserta pendekatan yang lazim dipakai untuk mengatasinya.

Secara spesifik meliputi hal-hal sebagai berikut :
  • Mencari hubungan jadwal-biaya yang ekonomis.
  • Menyusun jadwal dengan keterbatasan sumber daya.
  • Meratakan pemakaian sumber daya.
Namun yang kita bahas saat ini hanya mengacu pada Poin pertama diatas yaitu Mencari Hubungan Jadwal-Biaya yang Ekonomis. sementara Penyusunan Jadwal dengan Sumber Daya yang terbatas dan Meratakan Sumber Daya , akan di bahas pada materi Berikutnya.

Jadwal Proyek manajemen Konstruksi

Menyusun Jadwal yang Ekonomis

Metode jaringan kerja CPM dapat digunakan untuk menganalisis masalah tersebut, yaitu dengan memperkirakan :
  • Jadwal yang ekonomis bagi suatu proyek, yang didasarkan atas biaya langsung untuk mempersingkat waktu penyelesaian komponen-komponennya.
  • Jadwal yang optimal dengan memperhatikan biaya langsung dan tidak langsung.
Langkah ini dilakukan dengan mengadakan analisis hubungan antara waktu terhadap biaya. Dimulai dari satu kegiatan, kemudian dikembangkan bagi semua kegiatan-kegiatan yang merupakan suatu proyek.

Mempersingkat Waktu Penyelesaian

Telah disebutkan bahwa CPM memakai satu angka estimasi bagi kurun waktu masingmasing kegiatan dengan penggunaan sumber daya pada tingkat normal. Proses mempercepat kurun waktu disebut Crash Program. Di dalam menganalisis proses tersebut digunakan asumsi sebagai berikut :
  • Jumlah sumber daya yang tersedia tidak merupakan kendala. Ini berarti dalam menganalisis program mempersingkat waktu, altematif yang akan dipilih tidak dibatasi oleh ketersediaan sumber daya.
  • Bila diinginkan waktu penyelesaian kegiatan lebih cepat dengan lingkup yang sama, maka keperluan sumber daya akan bertambah. Sumber daya ini dapat berupa tenaga kerja, material, peralatan atau bentuk lain yang dapat dinyatakan dalam sejumlah dana.
Jadi, tujuan utama dari program mempersingkat waktu adalah Memperpendek Jadwal Penyelesaian Kegiatan atau proyek dengan kenaikan biaya yang minimal.

Terminologi dan Rumus Perhitungan

Untuk menganalisis lebih lanjut hubungan antara waktu dan biaya suatu kegiatan, dipakai definisi sebagai berikut :
  • Kurun Waktu Normal Adalah kurun waktu yang diperlukan untuk melakukan kegiatan sampai selesai, dengan cara yang efisien tetapi di luar pertimbangan adanya kerja lembur dan usaha-usaha khusus lainnya, seperti menyewa peralatan yang lebih canggih.
  • Biaya Normal Adalah biaya langsung yang diperlukan untuk menyelesaikan kegiatan dengan kurun waktu normal.
  • Kurun Waktu Dipersingkat (Crash Time) Adalah waktu tersingkat untuk menyelesaikan sua tu kegiatan yang secara teknis masih mungkin. Di sini dianggap sumber daya bukan merupakan hambatan 
  • Biaya untuk Waktu Dipersingkat (Crash Cost) Adalah jumlah biaya langsung untuk menyelesaikan pekerjaan dengan kurun waktu tersingkat.

Hubungan antara waktu dan biaya digambarkan seperti grafik pada Gambar dibawah ini. Titik A menunjukkan titik normal, sedangkan B adalah titik dipersingkat.
Hubungan waktu - biaya pada keadaan normal dan dipersingkat untuk satu kegiatan

Garis yang menghubungkan titik A dengan B disebut kurva waktu-biaya. Pada umumnya garis ini dapat dianggap sebagai garis lurus, bila tidak (misalnya, cekung) maka diadakan perhitungan per segmen yang terdiri dari beberapa garis lurus.

Seandainya diketahui bentuk kurva waktu-biaya suatu kegiatan, artinya dengan mengetahui berapa slope atau sudut kemiringannya, maka bisa dihitung berapa besar biaya untuk mempersingkat waktu satu hari dengan rumus :
Rumus Slope Biaya

Sebagai contoh, misalkan kegiatan a dengan data-data
Contoh Menghitung Slope
contoh slope biaya

Maka diperoleh angka Rp5.000 untuk mempersingkat waktu 2 hari atau Rp2.500 sehari, jadi besar slope biaya = Rp2.500.

Konsep ini amat berguna untuk menganalisis berapa besar biaya untuk mempersingkat kurun waktu pelaksanaan suatu kegiatan, bilamana diketahui informasi-informasi yang diperlukan.

TPD dan TOT Proyek

Sebelumnya telah dibahas bagaimana mekanisme mempersingkat waktu dan hubungannya terhadap biaya bagi suatu kegiatan. Hal serupa berlaku bagi proyek, karena proyek adalah kumpulan dari sejumlah kegiatan.

Untuk maksud tersebut, dimulai dengan menentukan titik awal, yaitu titik yang menunjukkan waktu dan biaya normal proyek. Titik ini dihasilkan dari menjumlahkan biaya normal masing-masing kegiatan komponen proyek, sedangkan waktu penyelesaian proyek normal dihitung dengan metode CPM.

Pada Gambar  Hubungan waktu - biaya diatas, titik A merupakan titik normal. Dari titik awal ini kemudian dilakukan langkah- langkah mempersingkat waktu dengan pertama-tama terhadap kegiatan kritis.

Pada setiap langkah, tambahan biaya untuk memperpendek waktu terlihat pada slope biaya kegiatan yang dipercepat.

Dengan menambahkan biaya tersebut, maka pada setiap langkah akan dihasilkan jumlah biaya proyek yang baru sesuai dengan kurun waktunya.

Hal ini ditunjukkan dengan adanya titik-titik yang memperlihatkan hubungan baru antara waktu dan biaya, seperti terlihat pada Gambar dibawah ini.
Titik normal TPD dan TDT

Bila langkah mempersingkat waktu diteruskan, akan menghasilkan titik-titik baru yang jika dihubungkan berbentuk garis-garis putus yang melengkung ke atas (cekung), yang akhimya langkah tersebut sampai pada titik proyek dipersingkat (TPD) atau project crashpoint.

Titik ini merupakan batas maksimum waktu proyek dapat dipersingkat. Pada TPD ini mungkin masih terdapat beberapa kegiatan komponen proyek yang belum dipersingkat waktunya, dan bila ingin dipersingkat juga (berarti mempersingkat waktu semua kegiatan proyek yang secara teknis dapat dipersingkat), maka akan menaikkan total biaya proyek tanpa adanya pengurangan waktu. Titik tersebut dinamakan titik dipersingkat total (TDT) atau all crash-point.

Sebagai gambaran, berikut adalah contoh program mempersingkat waktu proyek yang terdiri dari lima kegiatan dengan biaya normal dan dipercepat seperti terlihat dibawah ini.
Proyek yang terdiri dari Iima komponen kegiatan dengan kurun waktu normal

1 . Pertama-tama mencari jalur kritis, menghitung kurun waktu penyelesaian proyek, dan float.

Hitungan maju :

EF (1-2) = ES(1-2) + 5 = 5
EF (2-4) = ES(2-4) + 9 = 14
EF (4-5) = ES(4-5) + 4 = 18
EF (2-3) = ES(2-3) + 3 = 5 + 3 = 8
EF (3-4) = ES(3-4) + 2 = 8 + 2 = 10

Diperoleh waktu penyelesaian proyek 18 hari.

Hitungan mundur :

Didapat float total 2-3-4:

LF (4-5) = EF(4-5) = 18
LS (4-5) = LF(4-5) - 4 = 18 - 4 = 14
LF (3-4) = LF(2-4) = LS(4-5) = 14
LS (3-4) = LF(3-4) - D = 14 - 2 = 12
LF (2-3) = LS(3-4) = 12
TF (3-4) = LF(3-4) - EF(3-4) = 14 - 10 = 4
TF (2-3) = LF(2-3) - EF(2-3) = 12 - 8 = 4

Dari hitungan di atas diperoleh :
  • Jalur kritis adalah 1-2-4-5.
  • Kurun waktu penyelesaian proyek 18 hari.
  • Float total terletak di jalur 2-3-4 sebesar 4 hari.
2. Membuat tabulasi waktu serta biaya normal dan dipersingkat.
3. Menghitung slope biaya masing-masing kegiatan, hasilnya dimasukkan pada kolom paling kanan Tabel dibawah ini.
Contoh Perhitungan Biaya Slope

Dengan cara yang sama, diperoleh berturut-turut angka untuk slope biaya kegiatan-kegiatan selanjutnya, yaitu 100, 75, 110, dan 60.
Tabulasi contoh soal

4. Mempersingkat waktu proyek

Menganalisis TPD dan TDT


Dari Tabel dibawah ini terlihat bahwa titik TPD (crash point) tercapai setelah selesai mempersingkat kegiatan 1-2, yaitu diperoleh angka-angka waktu penyelesaian proyek 13 hari dengan biaya langsung Rp l.800.

Tabel mempersingkat kegiatan

Melewati titik TPD, usaha mempersingkat waktu kegiatankegiatan berikutnya tidak menghasilkan semua komponen kegiatan proyek yang dapat dipersingkat telah dipersingkat dan dicapailah titik TDT (all crash point) dengan total biaya Rp2.010 tanpa mengurangi waktu penyelesaian proyek (tetap 13 hari).

Jadi, dari segi usaha mempersingkat jadwal, maka pengeluaran sebesar Rp 2.010 - Rpl.800 = Rp210 adalah sia-sia. Grafik dibawah ini menunjukkan hasil analisis di atas.


Titik-titik normal TPD dan TDT

Untuk memberi gambaran bagaimana dampak mempersingkat waktu terhadap proyek keseluruhan, maka Gambar a, b, c, d, e, f  memperlihatkan proses tersebut selangkah demi selangkah.

a .Proyek dengan kurun  waktu normal


b. Kegiatan 4-5 dipercepat 2 hari



c. kegiatan kritis 2-4 dipercepat 2 hari



d. Kegiatan kritis 1-2 dipercepat 1 hari



e. Kegiatan nonkritis 2-3 dipercepat 1 hari



f. Kegiatan non kritis 3-4 dipercepat 1 hari




Jalur Kritis Baru

Seringkali dalam proses mempercepat waktu penyelesaian proyek timbul jalur kritis baru. Pada contoh Gambar diatas, hal tersebut terjadi seandainya kegiatan kritis 2-4 dapat dipersingkat dengan angka melebihi besar · float total di jalur nonkritis 2-3-4.


Biaya langsung dan tidak langsung

Analisis dan contoh yang disajikan pada pembahasan sebelumnya hanya mengenai biaya langsung kegiatan proyek. Kenyataan sesungguhnya, biaya proyek terdiri dari biaya langsung (direct cost) dan biaya tidak langsung (indirect cost).

Perincian mengenai hal tersebut terdapat pada pembahasan sebelumnya. Yang termasuk biaya tidak langsung antara lain sebagai adalah :
  • Gaji dan pengeluaran lain bagi tenaga administrasi, tim penyelia, dan manajemen proyek.
  • Biaya pengadaan fasilitas sementara untuk pekerja, seperti perumahan atau asrama sementara, tempat rekreasi, dan lain-lain, yang biasanya diperlukan untuk proyekproyek besar yang letaknya terpencil.
  • Menyewa atau membeli alat-alat berat untuk konstruksi.
  • Ongkos menyewa kantor, termasuk keperluan utiliti seperti listrik clan air.
  • Bunga clari clana yang cliperlukan proyek.

Jadi, total biaya proyek adalah sama dengan jumlah biaya langsung ditambah biaya tidak langsung. Kedua duanya berubah sesuai dengan waktu dan kemajuan proyek.

Meskipun tidak dapat diperhitungkan dengan rumus tertentu, tetapi pada umumnya,semakin lama proyek berjalan maka semakin tinggi kumulatif biaya tidak langsung yangbdiperlukan.

Grafik dibawah ini menunjukkan hubungan ketiga macam biaya tersebut. Terlihat bahwa biaya optimal didapat dengan mencari total biaya proyek yang terkecil.

Hubungan biaya-biaya total,langsung,tidak langsung ,dan optimal

Ringkasan Prosedur Mempersingkat Waktu

Dari uraian di atas maka garis besar prosedur mempersingkat waktu adalah sebagai berikut :
  • Menghitung waktu penyelesaian proyek dan identifikasi float dengan CPM, memakai kurun waktu normal.
  • Menentukan biaya normal masing-masing kegiatan.
  • Menentukan biaya dipercepat masingmasing kegiatan.
  • Menghitung slope biaya masing-masing komponen kegiatan.
  • Mempersingkat kurun waktu kegiatan, dimulai dari kegiatan kritis yang mempunyai slope biaya terendah.
  • Setiap kali selesai mempercepat kegiatan, teliti kemungkinan adanya float yang mungkin dapat dipakai untuk mengulur waktu kegiatan yang bersangkutan untuk memperkecil biaya.
  • Bila dalam proses mempercepat waktu proyek terbentuk jalur kritis baru, maka percepat kegiatan-kegiatan kritis yang mempunyai kombinasi slope biaya terendah.
  • Meneruskan mempersingkat waktu kegiatan sampai titik TPD.
  • Buat tabulasi biaya versus waktu, gambarkan dalam grafik dan hubungkan titik normal (biaya dan waktu normal), titik-titik yang terbentuk setiap kali mempersingkat kegiatan, sampai dengan titik-titik TPD.
  • Hitung biaya tidak langsung proyek dan gambarkan pada kertas grafik di atas.
  • Jumlahkan biaya langsung dan tidak langsung untuk mencari biaya total sebelum kurun waktu yang diinginkan.
  • Periksa pada grafik biaya total untuk mencapai waktu optimal, yaitu kurun waktu penyelesaian proyek dengan biaya terendah.
Demikianlah Materi tentang Perencanaan Jadwal Proyek yang Murah Ekonomis ini, semoga bermanfaat. Bagi anda yang menyukai materi ini bisa IKUTI Updetan informasi selanjutnya yaitu Perencanaan Keterbatasan Sumber Daya Proyek anda bisa Ikuti Materinya Melalui Facebook.

KLIK IKUTI




Baca Selengkapnya ....
Share on :

Contoh Menghitung Menyusun Jaringan PDM

Posted by taufick max Selasa, 28 Januari 2014 0 komentar

Contoh Menghitung dan Menyusun Jaringan PDM

contoh jaringan PDM, Menghitung Jaringan PDM, Menyusun Jaringan PDM

 

Materi ini merupakan Lanjutan dari Materi sebelumnya yaitu tentang Analisis Penjadwalan Proyek dengan Metode Diagram Preseden ( PDM ). Kalau pada materi sebelumnya kita membahas tentang Fungsi dan perbedaan antara Metode PDM dengan Metode CPM serta Metode PERT, maka kali ini lebih mengarah ke Cara Menghitung dan Menyusun Jaringan PDM.

Ilustrasi di bawah ini memberikan petunjuk bagaimana mempergunakan rumus-rumus pada pembahasan sebelumnya, guna menyusun Jaringan PDM dari suatu informasi tertentu yang . telah diketahui . Misalnya, sebagai berikut :
  • Proyek terdiri dari enam kegiatan A,B,C,D,E, dan F dengan nomor urut 1,2,3,4,5, dan 6.
  • Kurun waktu kegiatan tercantum pada Tabel dibawah ini
  • Telah diketahui pula konstrain antara kegiatan- kegiatan yang bersangkutan.
PDM Manajemen Proyek Konstruksi
Data Proyek terdiri dari 6 Kegiatan

Diminta menyusun jaringan PDM, menentukan jalur kritis dan kurun waktu penyelesaian proyek.

Untuk menjawab soal di atas, dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
  • Membuat denah node sesuai dengan jumlah kegiatan. Jadi, dalam hal ini akan terdapat enam node, dengan kurun waktu yang bersangkutan.
  • Menghubungkan node-node tersebut dengan anak p anah sesuai dengan ketergantungan dan konstrain. 
  • Menyelesaikan diagram PDM dengan melengkapi atribut dan simbol yang diperlukan.
  • Menghitung ES, EF, LS, dan LF untuk mengidentifikasi kegiatan kritis, jalur kritis, float, dan waktu penyelesaian proyek.
Manajemen Proyek Metode jaringan Kerja PDM


Perincian langkah-langkah di atas adalah sebagai berikut :
  • Membuat denah node sesuai jumlah kegiatan seperti diperlihatkan pada Gambar dibawah ini.
Denah Node Proyek Sesuai Tabel diatas
  • Menentukan urutan kegiatan, konstrain, dan melengkapinya dengan atribut seperti diperlihatkan pada Gambar ini.
Menentukan Kendala Sesuai Tabel
Langkah berikutnya menghitung ES, LS, EF,dan LF sebagai berikut :

Hitungan Maju



 

Hitungan Mundur

  • Dimulai dari kegiatan terakhir F LF(6) adalah sama dengan EF(6) = 24 (titik akhir proyek)



Dipakai angka terkecil yaitu LF(2) = 9 LS(2) = LF(2) - D(B) = 9 - 6 = 3


Akhimya, setelah angka-angka E5, EF, L5, dan LF dimasukkan ke dalam node yang bersangkutan, maka diperoleh diagram PDM yang lengkap dibawah ini.

Jaringan_PDM_lengkap_dengan_atribut_dan_simbol

Jalur Kritis dan Float

Kegiatan C bukanlah kegiatan kritis karena L5 tidak sama besar dengan E5, demikian juga LF tidak sama besar dengan EF. Float kegiatan C = LF(3)-EF(3) = L5-E5 = 14-13 = 8-7 = 1

Jalur kritis mengikuti rangkaian kegiatan dengan konstrain sebagai berikut.
Jalur Kritis Mengikuti Rangkaian

Terlihat bahwa angka 24 hari lebih kecil dari pada angka masing-masing kegiatan kritis bila dijumlahkan (5 + 6 + 7 + 6 + 8 = 32). Hal ini karena kegiatan-kegiatan tersebut tumpang tindih.

Interupsi Kegiatan

Oleh karena alasan tertentu, dalam PDM kadang-kadang dijumpai suatu kegiatan dihentikan dan pelaksanaan selanjutnya dari sisa kegiatan tersebut ditunda. Hal ini dikenal  sebagai splitting atau interupsi. Contoh di bawah ini menjelaskan hal tersebut.
Proyek terdiri dari dua kegiatan

Kedua kegiatan menggali tanah dan meletakkan pipa dikerjakan secara tumpang tindih mengikuti konstrain antara keduanya.

Penyajian dengan PDM dan analisis selanjutnya dengan CPM/ AOA pada Gambar dibawah ini, akan mengungkapkan beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu adanya interupsi pada pekerjaan memasang pipa 4-5-6.
Proyek memasang pipa dengan kendala-kendala
Interupsi kegiatan

Ini disebabkan karena konstrain ss (1-2) = 3, sehingga pekerjaan meletakkan pipa harus dimulai 3 hari (bila dipakai hari sebagai satuan waktu) sesudah pekerjaan menggali tanah mulai.

Jadi, konstrain ini menentukan kedudukan peristiwa E (4). Adapun konstrain lain, yaitu FF (1-2) menentukan kedudukan E(6), di mana pekerjaan memasang pipa harus selesai 4 hari setelah pekerjaan menggali tanah selesai E (3).

Sehingga peristiwa E (6) jatuh pada hari ke-15 (11 + 4), dan peristiwa E (5) yang waktunya sama dengan E (3), haruslah terjadi pada hari ke-11.

Akibatnya, kegiatan memasang pipa 4-5-6 mengalami penundaan atau berhenti selama 3 hari (15 - 5 - 4 - 3 = 3) . Pada contoh di atas jalur kritis adalah 1 - 2 - 3 - 5 - 6 dengan total waktu 15 hari.

Umumnya dikatakan interupsi akan terjadi bila kombinasi berbagai konstrain terhadap kegiatan yang bersangkutan menghasilkan EF dan E5 atau LF dan L5, yang perbedaannya melebihi kurun waktu kegiatan tersebut.

Untuk contoh di atas, hal ini terlihat konstrain-konstrain FF (1-2) menentukan EF dan 55 (1-2 ) menentukan ES pekerjaan meletakkan pipa, di mana angka EF - E5 = 15 - 3 = 12 lebih besar dari kurun waktu pekerjaan yang bersangkutan (= 9). Dan ini mengakibatkan interupsi selama 12 - 9 = 3 hari

Pengaruh Interupsi Terhadap Pekerjaan

Dalam praktek di lapangan, adanya interupsi demikian sering menurunkan produktivitas tenaga kerja. Oleh karenanya, diusahakan dihindari dengan berbagai cara, misalnya untuk contoh di atas, dengan memperpanjang kurun waktu kegiatan meletakkan pipa dari 9 hari menjadi 12 hari, dengan mengurangi jumlah tenaga dan sumber daya yang dipergunakan.

Proyek dianalisis dengan metode CPM/AOA

Atau mengundurkan mulainya pekerjaan meletakkan pipa dari hari ke-3 menjadi hari ke-6. Cara pertama mungkin berpengaruh terhadap efisiensi pekerjaan, sedangkan cara kedua harus diteliti betul-betul apakah tidak berakibat terhadap penyelesaian proyek secara keseluruhan.

Ini terjadi, misalnya pada hari ke-4 pelaksanaan proyek, telah direncanakan memulai pekerjaan inspeksi pipa-pipa yang telah diletakkan di parit galian. Jadi, kalau pekerjaan meletakkan pipa baru dimulai pada hari ke-6, maka pekerjaan inspeksi belum dapat dimulai, sehingga akan mengacaukan jadwal pekerjaan inspektor, demikian pula terhadap jadwal penyelesaian proyek.

Demikianlah Materi tentang Contoh Menghitung dan Menyusun Jaringan PDM. semoga bermanfaat. Jika anda menyukai Materi ini bisa anda Ikuti Updetan materi berikutnya melalui FACEBOOK. Terima Kasih.

KLIK IKUTI





Baca Selengkapnya ....
Share on :

Materi Populer